Selamat Datang di Blog Analis Kesehatan Pontianak, Semoga Blog kami bermanfaat bagi Anda. Jangan Lupa untuk meninggalkan komentar untuk kemajuan blog kami, terima kasih!
Tampilkan postingan dengan label Laboratorium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laboratorium. Tampilkan semua postingan

20 Maret 2011

Resiko Nosokomial

akhirnya selesai juga postingan tentang nosokomial...
Resiko infeksi nosokomial selain terjadi pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit, dapat juga terjadi pada para petugas Rumah Sakit tersebut. Berbagai prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan dengan kuman yang berasal dari pasien. Infeksi petugas juga berpengaruh pada mutu pelayanan karena petugas menjadi sakit sehingga tidak dapat melayani pasien.
Pengetahuan tentang pencegahan infeksi sangat penting untuk petugas Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi infeksi. Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. Untuk seorang petugas pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu.

Nosokomial Part III

ini dia lanjutan ke III dari nosokomial, jadi bisa memperkecil infeksi yang memungkinkan terjadi..
Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit
Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum, tabung atau keduanya yang dipakai berulang-ulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan:
• Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan
• Pergunakan jarum steril
• Penggunaan alat suntik yang disposabel.
Masker, sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas, mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita.

Nosokomial Part II

Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial
Agen Infeksi
Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:
• karakteristik mikroorganisme,
• resistensi terhadap zat-zat antibiotika,
• tingkat virulensi,
• dan banyaknya materi infeksius.

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection).

Nosokomial Part I

infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.

19 Maret 2011

Mengecek kondisi darah


Farah Bararah - detikHealth
Berapa volume darah dalam tubuh Anda? Bagaimana kondisi darahnya? Sebaiknya lakukan tes darah seperti hemoglobin secara teratur dan rutin untuk deteksi dini dan menghindari komplikasi lebih lanjut.
Volume darah yang ideal dalam tubuh manusia manusia dewasa untuk perempuan berkisar 4,5 liter. Sedangkan untuk pria 5,6 liter darah.
Untuk mengetahui apakah jumlah darah cukup bisa dilihat dari hasil tes hemoglobin. Jika jumlah sel darahnya kurang hal pertama mungkin adalah karena gejala anemia. Jika jumlah sel darahnya terlalu banyak bisa jadi karena orang itu tinggal di pegunungan.
Hemoglobin berfungsi membawa molekul oksigen di dalam sel darah. Hemoglobin adalah senyawa metalloprotein yang menjadi bagian tubuh dari sel darah merah. Biasanya kadar hemoglobin akan diperiksa jika seseorang mengalami gejala sesak napas, pucat atau lainnya.

LED (Laju Endap Darah)

Protap TES LED. 

Cara Westergren

A. Pra analitik

Persiapan Penderita :
tidak memerlukan persiapan khusus

Persiapan sampel:
Darah vena dicampur dengan anti koagulan Natrium citrate 3,8 % dengan perbandingan 4:1 . Dapat juga dipakai darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0,95 dengan perbandingan 4:1.

Prinsip :
Mengukur kecepatan sedimentasi sel eritrosit di dalam plasma. Satuannya mm / jam

Alat dan bahan :
a. Pipet Westergren
b. Rak untuk pipet Westergren
c. Natrium Citran 3,8 %

24 Februari 2011

Keton Urine

Badan keton terdiri dari 3 senyawa, yaitu aseton, asam aseotasetat, dan asam β-hidroksibutirat, yang merupakan produk metabolisme lemak dan asam lemak yang berlebihan. Badan keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat digunakan untuk menghasilkan energi yang disebabkan oleh : gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes mellitus yang tidak terkontrol), kurangnya asupan karbohidrat (kelaparan, diet tidak seimbang : tinggi lemak – rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), atau gangguan mobilisasi glukosa, sehingga tubuh mengambil simpanan asam lemak untuk dibakar.

Urobilinogen Urine

Empedu, yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum, tempat bakteri usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sejumlah besar urobilinogen berkurang di faeses, sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah; di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu, dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan oleh ginjal ke dalam urin.


Ekskresi urobilinogen ke dalam urine kira-kira 1-4 mg/24jam. Ekskresi mencapai kadar puncak antara jam 14.00 – 16.00, oleh karena itu dianjurkan pengambilan sampel dilakukan pada jam-jam tersebut.

Pengumpulan Spesimen Urine

Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pancreas, dsb. Namun, untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, diperlukan specimen yang memenuhi syarat. Pemilihan jenis sampel urine, tehnik pengumpulan sampai dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur yang benar.

Jenis sampel urine :

  • Urine sewaktu/urine acak (random)Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus.

waktu pendarahan

Waktu perdarahan (bleeding time, BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris. Pemeriksaan ini mengukur hemostasis dan koagulasi. Masa perdarahan tergantung atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi pembuluh darah kapiler dan trombosit. Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi.

Prinsip pemeriksaan ini adalah menghitung lamanya perdarahan sejak terjadi luka kecil pada permukaan kulit dan dilakukan dalam kondisi yang standard. Ada 2 teknik yang dapat digunakan, yaitu teknik Ivy dan Duke. Kepekaan teknik Ivy lebih baik dengan nilai normal 1-6 menit. Teknik Duke nilai normal 1-8 menit. Teknik Ivy menggunakan lengan bawah untuk insisi merupakan teknik yang paling terkenal. Aspirin dan antiinflamasi dapat memperlama waktu perdarahan.

Analisa Mikroskopis Pada urine

Pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya perdarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.

Metode pemeriksaan mikroskopik sedimen urine lebih dianjurkan untuk dikerjakan dengan pengecatan Stenheimer-Malbin. Dengan pewarnaan ini, unsur-unsur mikroskopik yang sukar terlihat pada sediaan natif dapat terlihat jelas.


PROSEDUR

Sampel urin dihomogenkan dulu kemudian dipindahkan ke dalam tabung pemusing sebanyak 10 ml. Selanjutnya dipusingkan dengan kecepatan relatif rendah (sekitar 1500 - 2000 rpm) selama 5 menit. Tabung dibalik dengan cepat (decanting) untuk membuang supernatant sehingga tersisa endapan kira-kira 0,2-0,5 ml. Endapan diteteskan ke gelas obyek dan ditutup dengan coverglass. Jika hendak dicat dengan dengan pewarna Stenheimer-Malbin, tetesi endapan dengan 1-2 tetes cat tersebut, kemudian dikocok dan dituang ke obyek glass dan ditutup dengan coverglass, siap untuk diperiksa.

Penyakit Rematik

Semua keluhan pada sendi disebut rematik. Namun pada perkembangannya, penyakit atau gangguan pada otot, tulang dan syaraf juga dikategorikan ke dalam rematik. Kita menyebutnya encok.

Menurut dr. Handrawan Nadesul, terdapat berbagai jenis rematik, seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, ankylosing spondylitis, pirai/gout, frozen shoulder, tennis elbow, dsb. Keluhannya hampir sama, yaitu nyeri, kaku di sendi, sampai tidak bisa melakukan aktifitas fisik secara normal. Rasa nyeri timbul akibat peradangan yang terjadi pada sendi, otot, tulang, atau syaraf.

Protein Urine

Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. Dengan menggunakan spesimen urin acak (random) atau urin sewaktu, protein dalam urin dapat dideteksi menggunakan strip reagen (dipstick). Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria.

Penyakit Liver

Penyakit liver adalah penyakit yang mengenai organ hati. Hati dapat mengalami peradangan atau dinamakan hepatitis. Penyebabnya bermacam-macam, yaitu infeksi (paling sering), obat-obatan, minum alkohol, tercemar bahan kimia, racun aflatoxin dari kacang busuk atau bahan jamu yang sudah berjamur, sumbatan kandung empedu atau salurannya, kanker, perlemakan hati (fatty liver), atau karena komplikasi penyakit lain.

Beberapa penyakit ataupun gangguan metabolisme tubuh dapat menyebabkan komplikasi pada hati, di antaranya adalah diabetes mellitus, hiperlipidemia (kadar lemak dalam darah tinggi) dan obesitas (kegemukan). Kelainan tersebut menyebabkan gangguan dalam metabolisme lemak sehingga membebani kerja hati.

Glukosa Darah (Serum/Plasma)

Glukosa terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot rangka. Kadar glukosa dipengaruhi oleh 3 macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon-hormon itu adalah : insulin, glukagon, dan somatostatin.


Insulin dihasilkan oleh sel-sel β, mendominasi gambaran metabolik. Hormon ini mengatur pemakaian glukosa melalui banyak cara : meningkatkan pemasukan glukosa dan kalium ke dalam sebagian besar sel; merangsang sintesis glikogen di hati dan otot; mendorong perubahan glukosa menjadi asam-asam lemak dan trigliserida; dan meningkatkan sintesis protein, sebagian dari residu metabolisme glukosa. Secara keseluruhan, efek hormone ini adalah untuk mendorong penyimpanan energi dan meningkatkan pemakaian glukosa.

Kiat membaca Hasil Laboratorium Darah Part III

Postingan kali ini adalah bagian terakhir dari postingan-postingan terdahulu.


Pemeriksaan Darah Lengkap
Darah lengkap (Complete Blood Count/CBC) adalah pemeriksaan untuk menilai jumlah sel darah dan kadar hemoglobin. Saat ini pemeriksaan darah lengkap sudah menggunakan alat penghitung sel darah otomatis atau disebut haematology analyzer yang mampu menghitung sel-sel darah dengan waktu yang cepat dan akurat. Pemeriksaan darah ini juga sering disebut sebagai pemeriksaan darah rutin. Beberapa parameter yang diperiksa adalah :


Pemeriksaan Sel Darah Putih (Lekosit)
Jumlah sel darah putih (lekosit) atau White Blood Cell (WBC). Normalnya, jumlah lekosit dalam darah adalah 4,0 – 11,0 x10^3/mmk (millimeter kubik) darah. Lekosit yang tinggi dapat dijumpai pada infeksi bakterial, tumor, luka bakar, leukemia, dsb. Jumlah lekosit dapat menurun pada penyakit sumsum tulang (misalnya pada anemia aplastik, mielofibrosis, infiltrasi neoplasma, dsb), inveksi virus (demam berdarah dengue, campak, HIV, dsb), pengaruh obat-obatan (misalnya obat anti kanker), dan sebagainya.

Kiat membaca Hasil Laboratorium Darah Part II

Ketika menerima lembar hasil pemeriksaan laboratorium, seringkali orang bertanya-tanya, hasilnya bagaimana, normal atau tidak, ada penyakitnya atau tidak? Cara yang termudah adalah dengan melihat angka pada kolom hasil dan membandingkannya dengan nilai rujukan (reference range) atau nilai normal (normal range) yang biasanya disertakan dalam lembar hasil tersebut. Jika masih belum mengerti, tanyakan ke dokter, selain tahu hasilnya juga bisa berkonsultasi lebih lanjut.

Pada postingan ini saya akan melanjutkan postingan terdahulu. Semoga bermanfaat untuk Anda. Selamat membaca.

Protein
Protein adalah senyawa organik kompleks yang berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Protein diperlukan dalam (1) pembetukan dan perbaikan sel dan jaringan, (2) sintesis hormon, enzim, antibodi (kekebalan tubuh), (3) transport substansi khusus, (4) sistem koagulasi (pembekuan) darah, dan (4) pengaturan keseimbangan kadar asam basa dalam sel.
Protein kebanyakan disintesis di hati, yaitu albumin, globulin dan faktor-faktor pembekuan darah. mengukur jumlah dan jenis protein dalam darah. Pemeriksaan protein untuk mengetahui indeks kesehatan dan gizi seseorang. Jenis pemeriksaan protein yang umum dilakukan adalah protein total (protein secara keseluruhan), albumin dan globulin.


Lemak Darah
Lemak darah terdiri dari trigliserid dan kolesterol. Sedangkan kolesterol terdiri dari kolesterol HDL (High Density Lipopretein), kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan kolesterol VLDL (Very Low Density Lipopretein).

Semua lemak dalam menu makanan kita akan diolah menjadi trigliserid, asam lemak bebas, fosfolipid, dan kolesterol. Tiga unsur yang perlu diperhatikian sehubungan dengan kesehatan adalah asam lemak bebas, trigliserid, dan kolesterol.

Asam lemak bebas yang berlebihan di dalam darah akan diubah sebagai trigliserid. Sebagian trigliserid digunakan untuk pembentukan kolesterol. Jika trigliserid menumpuk dalam darah, dengan sendirinya kolesterol juga akan meninggi.

Dalam pemeriksaan laboratorium, lemak diperiksa sebagai kolesterol total (keseluruhan kolesterol), kolesterol HDL, kolesterol LDL dan trigliserid. Seseorang harus puasa setidaknya 10 jam sebelum diambil darahnya.

Kolesterol total sebaiknya kurang dari 200 mg/dl, kolesterol HDL > 40 mg/dl, kolesterol LDL

Faktor Risiko jantung
Protein C reaktif (C-Reactive Protein). Pemeriksaan CRP digunakan untuk menilai respon tubuh terhadap adanya peradangan. Sedangkan CRP sensitifitas tinggi atau hsCRP (high sensitive CRP) berguna dalam predicting penyakit pembuluh darah (vascular), serangan jantung atau stroke.

Homocysteine. Homocysteine adalah asam amino yang biasanya ditemukan dalam jumlah kecil di dalam darah. Lebih tinggi terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung dan penyakit vascular lainnya. Homocysteine tinggi mungkin juga karena adanya kekurangan dari asam folat atau vitamin B12, karena turun temurun, usia tua, penyakit ginjal, atau obat tertentu. Laki-laki cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi.
Kadar homocysteine tinggi dapat dikurangi dengan lebih banyak makan sayur-sayuran hijau, sereal atau vitamin B-12.

Lipoprotein (a) atau Lp (a). Konsentrasi yang tinggi terkait dengan penyakit jantung koroner (PJK). Pada orang dengan diabetes dan tinggi Lp (a) ada peningkatan risiko penyakit asymptomatic koroner.


Thyroid
Thyroid adalah kalenjar yang terletak di leher right below the adam’s apple. Thyroid mengontrol kecepatan pembakaran energi, membangun energi tubuh, dan mengatur tingkat sensitivitas tubuh terhadap hormon2. Selain itu, thyroid juga menghasilkan hormon Thyroxine (T4), Triiodothyronine (T3) yang berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan tubuh keseluruhan, dan thyroid juga memproduksi hormon kalsitonin (calcitonin) yang berperan dalam mengatur keseimbangan kalsium.
Pembentukan thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3) dikendalikan oleh hormon Thyroid Stimulating Hormone (TSH) atau juga disebut thyrotropin, suatu hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitary anterior.Pemeriksaan laboratorium terhadap thyroid terdiri atas T3 total, T4 total, T3 bebas (free T3), T4 bebas (free T4) dan TSH. Hasil pemeriksaan thyroid berguna untuk mengetahui aktifitas thyroid. Beberapa keadaan yang berhubungan dengan aktivitas kelenjar thyroid adalah : hyperthyroidisme/hyperactive thyroid, seperti pada penyakit graves dan hypothyroidisme/hypoactive thyroid, seperti pada congenital juvenilis, myxedema, dan goiter (gondok)


Hemoglobin Glikosilat atau Glikohemoglobin
Glycohemoglobin-A1 atau hemoglobin A1c (HbA1c) berguna untuk mengukur jumlah gula kimia yang menempel pada sel darah merah. Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah seseorang penderita diabetes terkontrol atau tidak selama 3 bulan.


Hormon
Insulin. Insulin diproduksi oleh pancreas, berfungsi dalam metabolisme gula dalam tubuh. Pada diabetes tipe 1 (turunan), kadar insulin kurang/rendah, karena itu tipe ini sangat bergantung pada insulin (insulin dependent diabetes). Sedangkan pada diabetes tipe 2 (didapat), kadar insulin tinggi tetapi fungsinya kurang bagus. Kadar insulin sangat bervariasi dari orang ke orang, tergantung individu yang sensitifitas atau resistensi terhadap insulin. Kadar insulin juga sangat bervariasi sesuai dengan saat terakhir makan terjadi.

C-peptide. Ini adalah fragmen melekat pada insulin (pro-insulin) saat diproduksi insulin dalam pankreas. Kadar C-peptide biasanya berkorelasi dengan kadar insulin, kecuali bila orang mendapat suntikan insulin. Ketika seorang pasien hypoglycemic (gula darah rendah), tes ini mungkin berguna untuk menentukan apakah kadar insulin yang tinggi karena pancreas berlebihan dalam melepas insulin, atau karena suntikan insulin.

Estradiol. Estradiol adalah hormon estrogen yang penting untuk menilai fungsi reproduksi. Pemeriksaan estradiol berguna untuk mengukur aktifitas ovarium. Kadar estradiol pada perempuan bervariasi sesuai dengan usia, dan apakah mereka yang memiliki siklus haid normal atau tidak. Kadar hormon ini juga berubah pada kehamilan, melahirkan atau penggunaan pil KB.

Kiat membaca Hasil Laboratorium Darah Part I

Pemeriksaan laboratorium bermanfaat untuk mengevaluasi status kesehatan individu. Adalah penting untuk menyadari bahwa mungkin hasil laboratorium berada di luar apa yang disebut "rentang normal (normal range)". Variasi hasil pemeriksaan laboratorium ini mungkin karena hal-hal seperti ras, pengaruh diet, umur, jenis kelamin, siklus haid, tingkat aktivitas fisik, masalah terkait dengan pengumpulan dan/atau penanganan bahan pemeriksaan, obat-obatan non-resep (aspirin, obat demam, vitamin, dll), obat-obatan resep, asupan alkohol dan sejumlah faktor yang tidak terkait dengan penyakit. Apapun hasil yang tidak biasa atau abnormal harus didiskusikan dengan dokter Anda. Hal ini penting untuk mempelajari lebih lanjut masalah dalam tubuh Anda serta untuk menetapkan tindakan awal yang diperlukan.

Setiap laboratorium menetapkan rentang normal atas hasil pemeriksaan. Rentang normal ini mungkin saja berbeda-beda untuk tiap laboratorium (meskipun tidak secara signifikan), tergantung dari metode uji dan pereaksi yang digunakan. Untuk mengetahui apakah hasil pemeriksaan laboratorium Anda normal atau tidak, perhatikan lembar hasil laboratorium. Umumnya, hasil laboratorium memuat : (1) nama/jenis pemeriksaan, (2) hasil pemeriksaan (berupa angka, simbol/lambang atau kata), (3) nilai normal (normal range) atau nilai rujukan (reference range), dan (4) satuan (misalnya mg/dl, mmol/l, %, fL, dsb). Jika hasil pemeriksaan Anda berada di luar nilai normal, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter.

Glukosa darah
Ini adalah uji untuk mengetahui tingkat/kadar gula dalam darah. Beberapa pemeriksaan glukosa darah, yaitu glukosa sewaktu (random), glukosa puasa, glukosa 2 jam post prandial (setelah makan). Glukosa sewaktu (random) adalah uji glukosa darah yang dapat dilakukan sewaktu-waktu tanpa harus puasa terlebih dulu. Tes glukosa puasa dilakukan setelah puasa selama 8-10 jam, glukosa 2 jam PP dilakukan dua jam setelah makan. Uji glukosa puasa dan 2 jam pp merupakan uji untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus (DM).

Kadar glukosa darah sewaktu (tanpa puasa) normalnya berkisar 80 - 140 mg/dL (milligram per desiliter). Peningkatan kadar gula terjadi setelah makan dan mengalami penurunan pada pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar glukosa dalam darahnya berada jauh di atas nilai normal. Sebaliknya, dikatakan hypoglycemia apabila terjadi penurunan kadar glukosa darah dibawah normal.

Kadar glukosa darah puasa normalnya berkisar 70 – 120 mg/dl dan glukosa 2 jam setelah makan normalnya berkisar 80 – 140 mg/dl. Seseorang dikatakan diabetes jika hasil pemeriksaan pada saat puasa 126 mg/dl atau lebih, dan hasil pemeriksaan 2 jam setelah makan (post prandial) 180 mg/dl atau lebih. Hasil glukosa darah sewaktu pada diabetes mencapai 140 - 200 mg/dl atau lebih.

Elektrolit
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai muatan positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut disebut sebagai anion. Contoh dari kation adalah sodium/natrium (Na) dan potassium/kalium (K). Contoh dari anion adalah klorida (Cl) dan bikarbonat (HCO3).

Elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di dalam tubuh antara lain adalah natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorida (Cl), bikarbonat (HCO3), fosfat (HPO4) dan sulfat (SO4)

Kalium (K) mempengaruhi beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung. Kadar kalium yang tidak normal berhubungan dengan fungsi ginjal (gagal ginjal), muntah atau diare.
Natrium (Na) menunjukkan keseimbangan gula dan air. Natrium juga menunjukkan baik-buruknya kerja ginjal dan kelenjar adrenal. Kadar natrium yang tidak normal dalam darah juga menunjukkan volume darah yang terlalu rendah, misalnya akibat dehidrasi (muntah, diare). Keadaan ini juga bisa terjadi jika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya.
Kalsium (Ca), adalah bagian utama dari tulang dan gigi. Kalsium juga dibutuhkan agar saraf dan otot bekerja dengan baik, serta untuk reaksi kimia dalam sel. Tubuh kita mengatur jumlah kalsium dalam darah. Namun tingkat protein dalam darah dapat mempengaruhi hasil tes kalsium.

Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H2O)-elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel dan organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini akan memiliki fungsi antara lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (body’s fluid compartement), menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta ikut berperan dalam setiap proses metabolisme. Nilai apapun di luar rentang normal, tinggi atau rendah, memerlukan evaluasi medis.

Limbah produk
Blood Urea Nitrogen (BUN) adalah produk limbah yang dihasilkan dalam hati dan dikeluarkan oleh ginjal. Nilai tinggi dapat berarti bahwa ginjal tidak bekerja seperti yang diharapkan. BUN juga dipengaruhi oleh diet tinggi protein dan/atau latihan (exercise) yang keras atau kehamilan.

Creatinine merupakan produk limbah dari sebagian besar kerusakan otot. Tingginya level BUN dan kreatinin dapat menunjukkan masalah pada ginjal.

Asam urat (uric acid) biasanya dikeluarkan bersama air seni. Tingginya level asam urat biasanya terkait dengan masalah encok, arthritis, masalah ginjal dan penggunaan beberapa diuretic.

Enzim
AST/SGOT, ALT/SGPT, Gamma-GT dan Alkalin Phosphatase adalah singkatan untuk menyebut protein enzim yang membantu semua aktivitas kimia dalam sel. Mereka berada di dalam otot, hati dan jantung. Cedera pada sel dapat menyebabkan keluarnya enzim ini ke dalam darah. Kerusakan sel akibat alkohol dan sejumlah penyakit dapat menunjukkan tingginya nilai-nilai enzim-enzim tersebut.

Alkaline phosphatase merupakan enzim ditemukan terutama di tulang dan hati. Kadar yang lebih tinggi dapat dijumpai pada anak-anak dan wanita hamil atau kerusakan pada tulang atau hati atau batu empedu. Kadar yang rendah mungkin tidak signifikan.

Gamma GT dijumpai tinggi pada penyakit hati, terutama sumbatan pada saluran empedu.

Enzim transaminase (AST/SGOT, ALT/SGPT) dijumpai meninggi pada gangguan hati (misalnya hepatitis, overdosis alkohol), cedera otot dan serangan jantung.

LDH (Lactat dehydrogenase) adalah enzim yang ada di semua sel di dalam tubuh. Banyak jaringan mengandung LDH yang berfungsi mengkatalisis perubahan reversible laktat ke piruvat. Kadar LDH meningkat signifikan pada Anemia megaloblastik, Metastasis Karsinoma khususnya ke hati, Syok dan Hipoksia, Hepatitis, Infark Ginjal, Infark Miokard, dll. Sesuatu yang merusak sel, akan meningkatkan jumlah di dalam darah. Jika darah tidak segera diproses dengan benar, kadar yang tinggi dapat terjadi. Jika semua nilai kecuali LDH berada dalam rentang yang diharapkan, itu mungkin suatu proses kesalahan dan tidak memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Bilirubin: adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan sel darah merah oleh hati. Tingginya kadar bilirubin sering dijumpai pada penyakit hati akut (hepatitis akut), anemia hemolitik, batu empedu. Pada penyakit hati konstitusional (Gilbert’s Syndrome), talasemia, penyakit hati menahun dan anemia pernisiosa, bisanya bilirubin sedikit meningkat.

CPK (creatininkinase) merupakan enzim yang sangat berguna untuk diagnosing dari penyakit jantung dan kerangka otot. CPK mengkatalisis pertukaran fosfat secara reversible antara kreatin dan ATP (Adenosinetrifosfat), ia berperan penting dalam menyimpan dan melepaskan energi dalam sel terutama dalam otot bergaris, otot jantung dan dalam jumlah kecil dalam otak. Enzim ini adalah yang pertama meninggi setelah serangan jantung (3 hingga 4 jam). Kadar CPK dalam serum darah meningkat signifikan setelah terjadi kerusakan otot, seperti pada kasus Dsytrophia muscularis Duchenne, Polimiositis, Infark Miokard, dll.

tips mengelola kolestrol tinggi


Banyak orang mengakui, bahwa kolesterol masih menjadi momok, sehingga tidak sedikit yang berusaha menghindarinya. Banyak cara yang dilakukan untuk mengendalikan kolesterol, namun upaya itu kadang malah menimbulkan masalah, misalnya badan lemah dan mudah lelah, hal ini karena masih minimnya pemahaman orang terhadap kolesterol.

Bicara mengenai kolesterol, tidak bisa dipisahkan dari masalah lemak. Kolesterol memang merupakan bagian dari lemak. Pada prinsipnya, lemak tubuh terdiri dari 3 elemen, yaitu kolesterol, trigliserid dan fosfolipid.
Selama ini orang jarang memperhatikan trigliserid karena lebih merisaukan angka kolesterol. Trigliserid adalah 3 molekul gliserol yang merupakan salah satu tipe lemak. Trigliserid diperlukan untuk pembentukan energi. Kadar trigliserid akan naik jika kita mengkonsumsi karbohidrat yang berasal dari buah, permen, cokelat, pudding, es, krim, cake, dll. dalam jumlah yang berlebihan.

Kolesterol diperlukan dalam tubuh dalam berbagai proses metabolisme, misalnya sebagai bahan membentuk dinding sel, membuat vitamin D, menyusun hormon-hormon steroid (termasuk hormon seks dan kortikosteroid), membuat asam empedu yang digunakan untuk mengemulsi lemak. Kolesterol dibuat di dalam hati dan usus halus, tetapi tempat tinggalnya di dalam darah.

Kolesterol dikelompokkan menjadi : kolesterol total, kolesterol densitas sangat rendah atau VLDL (Very Low Density Lipoprotein), kolesterol densitas rendah atau LDL (Low Density Lipoprotein) dan kolesterol densitas tinggi atau HDL (High Density Lipoprotein).
VLDL bertugas membawa kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan energi. LDL bertugas mengangkut kolesterol dalam plasma darah untuk keperluan pertukaran zat. Tetapi sayangnya LDL ini mudah sekali menempel pada dinding pembuluh koroner sehingga menimbulkan timbunan kolesterol atau plak. Itu sebabnya LDL disebut sebagai “kolesterol jahat”. Sementara HDL bertugas menyedot timbunan kolesterol di jaringan tersebut, lalu mengangkutnya ke hati dan selanjutnya membuangnya ke dalam empedu. Karena itu maka HDL disebut sebagai “kolesterol baik”.

Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Untuk mengetahui kadar kolesterol, diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan setelah berpuasa selama 10 – 12 jam. Maksudnya supaya hasilnya lebih akurat dan tidak dipengaruhi oleh makanan yang baru dikonsumsi. Sebab, kadar trigliserid akan segera meningkat sehabis kita makan, sedangkan kolesterol total tidak begitu berubah. Umumnya, puasa dilaksanakan mulai jam 9 atau 10 malam menjelang tidur. Lalu pagi harinya sekitar jam 8 atau 9 diambil sampel darah untuk diperiksa laboratorium.
Hasil pemeriksaan dikatakan normal apabila kadar kolesterol total < style="font-style: italic;">xanthelasma (endapan kolesterol berwarna kuning muda yang terdapat di tengah atau di ujung kelopak mata), xanthoma (benjolan padat pada tendo atau urat siku, tumit atau lutut). Kedua gejala itu biasanya terdapat pada penderita kolesterol bawaan atau genetik (familial hypercholesterolemia).

Penyebab Hiperkolesterolemia
  1. Gangguan pada hati. Hati adalah tempat produksi kolesterol, maka jika terdapat gangguan pada organ ini, dengan sendirinya kadar kolesterol akan terpengaruh. Pada penderita hepatitis atau sumbatan pada empedu, kadar kolesterol akan meninggi. Tetapi ketika gangguan tersebut teratasi, maka kolesterol akan kembali normal.
  2. Gangguan pencernaan. Meskipun prosentasenya kecil, gangguan pada pencernaan dapat menyebabkan kadar kolesterol meningkat. Hal ini terjadi karena enzim yang mengatur metabolisme lemak terganggu. Pada orang yang kadar hormon tiroidnya rendah (hipotiroid) juga dapat terganggu kadar kolesterolnya akibat menurunnya tingkat metabolisme tubuh.
  3. Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi lemah, seperti daging, kuning telor, otak, hati, santan, goreng-gorengan, kacang tanah, keju, coklat, dll.
Yang dapat anda dilakukan
  1. Diet seimbang dan tidak makan terlalu berlebihan.
    • Kurangi makanan berlemak, ganti lemak binatang dengan minyak sayur sebanyak mungkin.
    • Kurangi sebanyak-banyaknya lemak daging. Buang semua lemak yang menempel pada daging sebelum dimasak. Buang kulit ayam sebelum dimasak. Makan lebih banyak protein dari ikan, ayam, sayuran, tahu dan tempe.
    • Makanan yang dipanggang, direbus atau oseng-oseng lebih baik daripada digoreng. Gunakan minyak sayur untuk memasak daripada mentega.
    • Jangan makan telur lebih dari tiga setiap minggu.
  2. Hanya dengan diet rendah lemak saja tidak menjamin menurunnya resiko penyakit jantung. Faktor risiko lain-lain juga penting dan perlu diperhatikan :
    • Berhenti merokok karena merokok dapat menguarngi kolesterol baik (kolesterol HDL) dan menaikkan kolesterol jahat (kolesterol LDL)
    • Jaga berat badan yang sesuai dengan umur dan tinggi badan.
    • Olah raga secara rutin.Bila anda menderita tekanan darah tinggi, diabetes, minum obat sesuai dengan anjuran dokter, ke dokter secara teratur untuk memastikan penyakit-penyakit ini selalu terkontrol dengan baik.
  3. Cara menurunkan kadar LDL dan menaikkan kadar HDL yang tercepat memang dengan cara minum obat. Tetapi, sebaiknya sebelum mengkonsumsi obat-obatan, coba dulu mengatur pola makan dan olah raga teratur selama enam bulan. Orang yang kegemukan harus menurunkan berat badannya dulu, mereka yang kadar trigliseridnya tinggi selain lemak, juga harus mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Kalau akhirnya harus minum obat, apa boleh buat, minumlah sesuai dengan anjuran dokter.
  4. Penderita faktor keturunan perlu pengobatan khusus di samping perubahan diet. Apabila anda mempunyai riwayat keluarga tinggi cholesterol (familial hypercholesterolemia) atau penyakit jantung, lebih baik anda berkonsultasi dengan dokter.
  5. Lakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, bisa 1 bulan sekali, 6 bulan sekali, 1 tahun sekali atau menurut anjuran dokter.

Cara menganalisa Hasil Laboratorium urine

Terdapat beberapa macam pemeriksaan urin, yaitu urinalisis, tes kehamilan, tes narkoba, biakan kuman, kepekaan obat, dsb. Urinalisis atau tes urin rutin digunakan untuk mengetahui fungsi ginjal dan mengetahui adanya infeksi pada ginjal atau saluran kemih. Tes ini terdiri dari dua macam, yaitu : tes makroskopik dan tes mikroskopik.

Tes makroskopik dilakukan dengan cara visual. Pada tes ini biasanya menggunakan reagen strip yang dicelupkan sebentar ke dalam urine lalu mengamati perubahan warna yang terjadi pada strip dan membandingkannya dengan grafik warna standar. Tes ini bertujuan mengetahui pH, berat jenis (BJ), glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, darah, keton, nitrit dan lekosit esterase.