Pemeriksaan laboratorium bermanfaat untuk mengevaluasi status kesehatan individu. Adalah penting untuk menyadari bahwa mungkin hasil laboratorium berada di luar apa yang disebut "rentang normal (normal range)". Variasi hasil pemeriksaan laboratorium ini mungkin karena hal-hal seperti ras, pengaruh diet, umur, jenis kelamin, siklus haid, tingkat aktivitas fisik, masalah terkait dengan pengumpulan dan/atau penanganan bahan pemeriksaan, obat-obatan non-resep (aspirin, obat demam, vitamin, dll), obat-obatan resep, asupan alkohol dan sejumlah faktor yang tidak terkait dengan penyakit. Apapun hasil yang tidak biasa atau abnormal harus didiskusikan dengan dokter Anda. Hal ini penting untuk mempelajari lebih lanjut masalah dalam tubuh Anda serta untuk menetapkan tindakan awal yang diperlukan.
Setiap laboratorium menetapkan rentang normal atas hasil pemeriksaan. Rentang normal ini mungkin saja berbeda-beda untuk tiap laboratorium (meskipun tidak secara signifikan), tergantung dari metode uji dan pereaksi yang digunakan. Untuk mengetahui apakah hasil pemeriksaan laboratorium Anda normal atau tidak, perhatikan lembar hasil laboratorium. Umumnya, hasil laboratorium memuat : (1) nama/jenis pemeriksaan, (2) hasil pemeriksaan (berupa angka, simbol/lambang atau kata), (3) nilai normal (normal range) atau nilai rujukan (reference range), dan (4) satuan (misalnya mg/dl, mmol/l, %, fL, dsb). Jika hasil pemeriksaan Anda berada di luar nilai normal, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter.
Glukosa darah
Ini adalah uji untuk mengetahui tingkat/kadar gula dalam darah. Beberapa pemeriksaan glukosa darah, yaitu glukosa sewaktu (random), glukosa puasa, glukosa 2 jam post prandial (setelah makan). Glukosa sewaktu (random) adalah uji glukosa darah yang dapat dilakukan sewaktu-waktu tanpa harus puasa terlebih dulu. Tes glukosa puasa dilakukan setelah puasa selama 8-10 jam, glukosa 2 jam PP dilakukan dua jam setelah makan. Uji glukosa puasa dan 2 jam pp merupakan uji untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus (DM).
Kadar glukosa darah sewaktu (tanpa puasa) normalnya berkisar 80 - 140 mg/dL (milligram per desiliter). Peningkatan kadar gula terjadi setelah makan dan mengalami penurunan pada pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar glukosa dalam darahnya berada jauh di atas nilai normal. Sebaliknya, dikatakan hypoglycemia apabila terjadi penurunan kadar glukosa darah dibawah normal.
Kadar glukosa darah puasa normalnya berkisar 70 – 120 mg/dl dan glukosa 2 jam setelah makan normalnya berkisar 80 – 140 mg/dl. Seseorang dikatakan diabetes jika hasil pemeriksaan pada saat puasa 126 mg/dl atau lebih, dan hasil pemeriksaan 2 jam setelah makan (post prandial) 180 mg/dl atau lebih. Hasil glukosa darah sewaktu pada diabetes mencapai 140 - 200 mg/dl atau lebih.
Elektrolit
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai muatan positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut disebut sebagai anion. Contoh dari kation adalah sodium/natrium (Na) dan potassium/kalium (K). Contoh dari anion adalah klorida (Cl) dan bikarbonat (HCO3).
Elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di dalam tubuh antara lain adalah natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorida (Cl), bikarbonat (HCO3), fosfat (HPO4) dan sulfat (SO4)
Kalium (K) mempengaruhi beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung. Kadar kalium yang tidak normal berhubungan dengan fungsi ginjal (gagal ginjal), muntah atau diare.
Natrium (Na) menunjukkan keseimbangan gula dan air. Natrium juga menunjukkan baik-buruknya kerja ginjal dan kelenjar adrenal. Kadar natrium yang tidak normal dalam darah juga menunjukkan volume darah yang terlalu rendah, misalnya akibat dehidrasi (muntah, diare). Keadaan ini juga bisa terjadi jika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya.
Kalsium (Ca), adalah bagian utama dari tulang dan gigi. Kalsium juga dibutuhkan agar saraf dan otot bekerja dengan baik, serta untuk reaksi kimia dalam sel. Tubuh kita mengatur jumlah kalsium dalam darah. Namun tingkat protein dalam darah dapat mempengaruhi hasil tes kalsium.
Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H2O)-elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel dan organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini akan memiliki fungsi antara lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (body’s fluid compartement), menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta ikut berperan dalam setiap proses metabolisme. Nilai apapun di luar rentang normal, tinggi atau rendah, memerlukan evaluasi medis.
Limbah produk
Blood Urea Nitrogen (BUN) adalah produk limbah yang dihasilkan dalam hati dan dikeluarkan oleh ginjal. Nilai tinggi dapat berarti bahwa ginjal tidak bekerja seperti yang diharapkan. BUN juga dipengaruhi oleh diet tinggi protein dan/atau latihan (exercise) yang keras atau kehamilan.
Creatinine merupakan produk limbah dari sebagian besar kerusakan otot. Tingginya level BUN dan kreatinin dapat menunjukkan masalah pada ginjal.
Asam urat (uric acid) biasanya dikeluarkan bersama air seni. Tingginya level asam urat biasanya terkait dengan masalah encok, arthritis, masalah ginjal dan penggunaan beberapa diuretic.
Enzim
AST/SGOT, ALT/SGPT, Gamma-GT dan Alkalin Phosphatase adalah singkatan untuk menyebut protein enzim yang membantu semua aktivitas kimia dalam sel. Mereka berada di dalam otot, hati dan jantung. Cedera pada sel dapat menyebabkan keluarnya enzim ini ke dalam darah. Kerusakan sel akibat alkohol dan sejumlah penyakit dapat menunjukkan tingginya nilai-nilai enzim-enzim tersebut.
Alkaline phosphatase merupakan enzim ditemukan terutama di tulang dan hati. Kadar yang lebih tinggi dapat dijumpai pada anak-anak dan wanita hamil atau kerusakan pada tulang atau hati atau batu empedu. Kadar yang rendah mungkin tidak signifikan.
Gamma GT dijumpai tinggi pada penyakit hati, terutama sumbatan pada saluran empedu.
Enzim transaminase (AST/SGOT, ALT/SGPT) dijumpai meninggi pada gangguan hati (misalnya hepatitis, overdosis alkohol), cedera otot dan serangan jantung.
LDH (Lactat dehydrogenase) adalah enzim yang ada di semua sel di dalam tubuh. Banyak jaringan mengandung LDH yang berfungsi mengkatalisis perubahan reversible laktat ke piruvat. Kadar LDH meningkat signifikan pada Anemia megaloblastik, Metastasis Karsinoma khususnya ke hati, Syok dan Hipoksia, Hepatitis, Infark Ginjal, Infark Miokard, dll. Sesuatu yang merusak sel, akan meningkatkan jumlah di dalam darah. Jika darah tidak segera diproses dengan benar, kadar yang tinggi dapat terjadi. Jika semua nilai kecuali LDH berada dalam rentang yang diharapkan, itu mungkin suatu proses kesalahan dan tidak memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Bilirubin: adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan sel darah merah oleh hati. Tingginya kadar bilirubin sering dijumpai pada penyakit hati akut (hepatitis akut), anemia hemolitik, batu empedu. Pada penyakit hati konstitusional (Gilbert’s Syndrome), talasemia, penyakit hati menahun dan anemia pernisiosa, bisanya bilirubin sedikit meningkat.
CPK (creatininkinase) merupakan enzim yang sangat berguna untuk diagnosing dari penyakit jantung dan kerangka otot. CPK mengkatalisis pertukaran fosfat secara reversible antara kreatin dan ATP (Adenosinetrifosfat), ia berperan penting dalam menyimpan dan melepaskan energi dalam sel terutama dalam otot bergaris, otot jantung dan dalam jumlah kecil dalam otak. Enzim ini adalah yang pertama meninggi setelah serangan jantung (3 hingga 4 jam). Kadar CPK dalam serum darah meningkat signifikan setelah terjadi kerusakan otot, seperti pada kasus Dsytrophia muscularis Duchenne, Polimiositis, Infark Miokard, dll.
24 Februari 2011
tips mengelola kolestrol tinggi

Banyak orang mengakui, bahwa kolesterol masih menjadi momok, sehingga tidak sedikit yang berusaha menghindarinya. Banyak cara yang dilakukan untuk mengendalikan kolesterol, namun upaya itu kadang malah menimbulkan masalah, misalnya badan lemah dan mudah lelah, hal ini karena masih minimnya pemahaman orang terhadap kolesterol.
Bicara mengenai kolesterol, tidak bisa dipisahkan dari masalah lemak. Kolesterol memang merupakan bagian dari lemak. Pada prinsipnya, lemak tubuh terdiri dari 3 elemen, yaitu kolesterol, trigliserid dan fosfolipid.
Selama ini orang jarang memperhatikan trigliserid karena lebih merisaukan angka kolesterol. Trigliserid adalah 3 molekul gliserol yang merupakan salah satu tipe lemak. Trigliserid diperlukan untuk pembentukan energi. Kadar trigliserid akan naik jika kita mengkonsumsi karbohidrat yang berasal dari buah, permen, cokelat, pudding, es, krim, cake, dll. dalam jumlah yang berlebihan.
Kolesterol diperlukan dalam tubuh dalam berbagai proses metabolisme, misalnya sebagai bahan membentuk dinding sel, membuat vitamin D, menyusun hormon-hormon steroid (termasuk hormon seks dan kortikosteroid), membuat asam empedu yang digunakan untuk mengemulsi lemak. Kolesterol dibuat di dalam hati dan usus halus, tetapi tempat tinggalnya di dalam darah.
Kolesterol dikelompokkan menjadi : kolesterol total, kolesterol densitas sangat rendah atau VLDL (Very Low Density Lipoprotein), kolesterol densitas rendah atau LDL (Low Density Lipoprotein) dan kolesterol densitas tinggi atau HDL (High Density Lipoprotein).
VLDL bertugas membawa kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan energi. LDL bertugas mengangkut kolesterol dalam plasma darah untuk keperluan pertukaran zat. Tetapi sayangnya LDL ini mudah sekali menempel pada dinding pembuluh koroner sehingga menimbulkan timbunan kolesterol atau plak. Itu sebabnya LDL disebut sebagai “kolesterol jahat”. Sementara HDL bertugas menyedot timbunan kolesterol di jaringan tersebut, lalu mengangkutnya ke hati dan selanjutnya membuangnya ke dalam empedu. Karena itu maka HDL disebut sebagai “kolesterol baik”.
Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Untuk mengetahui kadar kolesterol, diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan setelah berpuasa selama 10 – 12 jam. Maksudnya supaya hasilnya lebih akurat dan tidak dipengaruhi oleh makanan yang baru dikonsumsi. Sebab, kadar trigliserid akan segera meningkat sehabis kita makan, sedangkan kolesterol total tidak begitu berubah. Umumnya, puasa dilaksanakan mulai jam 9 atau 10 malam menjelang tidur. Lalu pagi harinya sekitar jam 8 atau 9 diambil sampel darah untuk diperiksa laboratorium.
Hasil pemeriksaan dikatakan normal apabila kadar kolesterol total < style="font-style: italic;">xanthelasma (endapan kolesterol berwarna kuning muda yang terdapat di tengah atau di ujung kelopak mata), xanthoma (benjolan padat pada tendo atau urat siku, tumit atau lutut). Kedua gejala itu biasanya terdapat pada penderita kolesterol bawaan atau genetik (familial hypercholesterolemia).
Penyebab Hiperkolesterolemia
- Gangguan pada hati. Hati adalah tempat produksi kolesterol, maka jika terdapat gangguan pada organ ini, dengan sendirinya kadar kolesterol akan terpengaruh. Pada penderita hepatitis atau sumbatan pada empedu, kadar kolesterol akan meninggi. Tetapi ketika gangguan tersebut teratasi, maka kolesterol akan kembali normal.
- Gangguan pencernaan. Meskipun prosentasenya kecil, gangguan pada pencernaan dapat menyebabkan kadar kolesterol meningkat. Hal ini terjadi karena enzim yang mengatur metabolisme lemak terganggu. Pada orang yang kadar hormon tiroidnya rendah (hipotiroid) juga dapat terganggu kadar kolesterolnya akibat menurunnya tingkat metabolisme tubuh.
- Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi lemah, seperti daging, kuning telor, otak, hati, santan, goreng-gorengan, kacang tanah, keju, coklat, dll.
- Diet seimbang dan tidak makan terlalu berlebihan.
- Kurangi makanan berlemak, ganti lemak binatang dengan minyak sayur sebanyak mungkin.
- Kurangi sebanyak-banyaknya lemak daging. Buang semua lemak yang menempel pada daging sebelum dimasak. Buang kulit ayam sebelum dimasak. Makan lebih banyak protein dari ikan, ayam, sayuran, tahu dan tempe.
- Makanan yang dipanggang, direbus atau oseng-oseng lebih baik daripada digoreng. Gunakan minyak sayur untuk memasak daripada mentega.
- Jangan makan telur lebih dari tiga setiap minggu.
- Hanya dengan diet rendah lemak saja tidak menjamin menurunnya resiko penyakit jantung. Faktor risiko lain-lain juga penting dan perlu diperhatikan :
- Berhenti merokok karena merokok dapat menguarngi kolesterol baik (kolesterol HDL) dan menaikkan kolesterol jahat (kolesterol LDL)
- Jaga berat badan yang sesuai dengan umur dan tinggi badan.
- Olah raga secara rutin.Bila anda menderita tekanan darah tinggi, diabetes, minum obat sesuai dengan anjuran dokter, ke dokter secara teratur untuk memastikan penyakit-penyakit ini selalu terkontrol dengan baik.
- Cara menurunkan kadar LDL dan menaikkan kadar HDL yang tercepat memang dengan cara minum obat. Tetapi, sebaiknya sebelum mengkonsumsi obat-obatan, coba dulu mengatur pola makan dan olah raga teratur selama enam bulan. Orang yang kegemukan harus menurunkan berat badannya dulu, mereka yang kadar trigliseridnya tinggi selain lemak, juga harus mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Kalau akhirnya harus minum obat, apa boleh buat, minumlah sesuai dengan anjuran dokter.
- Penderita faktor keturunan perlu pengobatan khusus di samping perubahan diet. Apabila anda mempunyai riwayat keluarga tinggi cholesterol (familial hypercholesterolemia) atau penyakit jantung, lebih baik anda berkonsultasi dengan dokter.
- Lakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, bisa 1 bulan sekali, 6 bulan sekali, 1 tahun sekali atau menurut anjuran dokter.
Cara menganalisa Hasil Laboratorium urine
Terdapat beberapa macam pemeriksaan urin, yaitu urinalisis, tes kehamilan, tes narkoba, biakan kuman, kepekaan obat, dsb. Urinalisis atau tes urin rutin digunakan untuk mengetahui fungsi ginjal dan mengetahui adanya infeksi pada ginjal atau saluran kemih. Tes ini terdiri dari dua macam, yaitu : tes makroskopik dan tes mikroskopik.Tes makroskopik dilakukan dengan cara visual. Pada tes ini biasanya menggunakan reagen strip yang dicelupkan sebentar ke dalam urine lalu mengamati perubahan warna yang terjadi pada strip dan membandingkannya dengan grafik warna standar. Tes ini bertujuan mengetahui pH, berat jenis (BJ), glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, darah, keton, nitrit dan lekosit esterase.
Kencing Batu
Istilah kencing batu digunakan untuk menyebut penyakit yang disebabkan adanya batu yang terbentuk di dalam ginjal dan saluran kencing. Tempat yang paling sering menjadi lokasi batu adalah ginjal, kemudian ureter dan kandung kemih.Batu ginjal terbentuk jika urin bertambah pekat yang menyebabkan substansi yang terkandung di dalamnya akan mengkristal dan lama-kelamaan menjadi batu. Batu ini bisa terbentuk di ginjal kanan, ginjal kiri atau kedua-duanya.
Batu ginjal sewaktu-waktu bisa turun masuk ke pipa kecil yang diameternya hanya beberapa milimeter, yang dinamakan ureter. Pipa ini menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Sebagaimana ginjal, ureter juga ada dua buah, di bagian kanan dan kiri. Batu ginjal yang masuk ke dalam ureter bisa terus turun hingga masuk ke dalam kandung kemih, atau bisa saja tersangkut dalam pipa ureter dan tidak bisa bergerak sama sekali. Ini yang disebut batu ureter.
Batu kandung kemih bisa berasal dari ginjal yang turun melewati ureter atau memang terbentuk di dalam kandung kemih. Sama halnya dengan batu ginjal, batu kandung kemih terbetuk jika urin bertambah pekat (misalnya karena kurang minum) atau karena seringnya kandung kemih terinfeksi. Selain itu, orang yang kandung kemihnya abnormal (tumbuh tonjolan divertiulum, lumpuh), atau menderita pembesaran prostat beresiko mengidap batu kandung kemih. Namun, kasus batu kandung kemih lebih jarang terjadi.
Gejala Kencing Batu
Batu ginjal jarang menimbulkan gejala, kecuali jika sudah tersangkut pada saluran kemih ginjal, ureter atau menutupi muara kandung kemih. Gesekan dengan dinding saluran kemih menimbulkan nyeri kolik hebat, apalagi jika tersangkut di ureter. Tanpa serangan kolik, sebelumnya mungkin hanya sering demam ringan, mual, merasa tidak enak di perut dan nyeri pinggang kiri atau kanan, atau kedua-duanya.
Mungkin juga sudah mulai sering kencing, dan lebih sering kencing di malam hari. Jika telah menjadi berat, warna urin bisa keruh, merah berdarah dan kencing terasa nyeri. Nyeri sering terasa juga di kemaluan dan di bawah selangkangan. Jika batu menutupi muara saluran kemih kemaluan, pancaran kemih bisa mendadak berhenti, tersendat dan mungkin memancar lagi jika posisi tubuh berubah.
Jika batu kandung kemih sangat besar bisa menutupi saluran kemih sehingga urine yang terus-menerus diproduksi ginjal akan tertahan. Akibatnya bisa timbul kerusakan ginjal, bahkan bisa terjadi gagal ginjal.
Siapa yang bisa terkena kencing batu?
Tidak semua orang bisa terkena kencing batu. Ini tergantung dari sifat urinnya. Jika urin mengandung substansi yang bisa membentuk batu saluran kencing, maka orang berisiko terkena kencing batu.
Kebanyakan, batu kemih terbentuk dari zat kapur yang berikatan dengan oksalat (batu oksalat), fosfat (batu fosfat), karbonat (batu karbonat) atau kolesterol (batu kolesterol). Orang yang kelenjar anak gondoknya lebih aktif dari normal (hiperparatiroidisme), zat kapur dalam darahnya cenderung tinggi.
Selain batu kapur, ada juga batu urat dan batu cystine dan batu struvite. Batu urat terbentuk jika kadar asam urat (uric acid) dalam darahnya lebih dari normal dalam waktu yang lama. Batu cystine terbentuk jika orang mengalami kelainan metabolisme sehingga kadar cystine dalam urin tinggi. Batu struvite terbentuk jika saluran kencing sering mengalami infeksi (umumnya wanita).
Kencing batu bisa kambuh. Pria dua kali lebih sering terkena kencing batu daripada wanita. Beberapa tipe batu kemih bersifat menurun di lingkungan keluarga. Tipe batu kemih lainnya berkaitan dengan kegemukan, penyakit perut, cacat pada ginjal, atau oleh karena penyakit ginjal. Orang yang sering mengalami gangguan usus cenderung terkena batu oksalat. Infeksi saluran kemih yang berulang bisa mencetuskan batu kemih. Dan adanya batu kemih menjadi penyebab seringnya infeksi saluran kemih (urinary tract infection).
Diagnosis Kencing Batu
- Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi, fungsi ginjal dan penyebab batu kemih. Pemeriksaan ini terdiri dari :
- Pemeriksaan darah, seperti darah rutin, KED, tes fungsi ginjal (BUN, kreatinin, asam urat), SGOT, SGPT, kolesterol, kalsium
- Pemeriksaan urin (urinalysis)
- Analisa batu kemih
- Pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan pencitraan yang bertujuan memastikan adanya batu kemih dan menentukan lokasi atau letak batu di saluran kemih. Beberapa pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah :
- Foto rontgen polos perut
- Ultrasonografi (USG)
- Intravenous Pyelography (IVP)
- Retrograde Pyelography
- CT-scan perut
- Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Mencegah Kencing Batu
Beberapa hal berikut ini mungkin bisa dilakukan untuk mencegah kencing batu :
- Banyak minum air putih
- Tidak membiasakan menunda atau menahan kencing
- Jika kadar asam urat tinggi, segera diturunkan dengan diet makanan atau jika perlu, minum obat penurun asam urat, seperti allopurinol
- Diet dengan membatasi makanan yang : (a) berzat kapur tinggi (susu dan produknya, obat mag antacidum), (b) mengandung purin tinggi (daging-dagingan, kacang tanah, dsb), (c) mengandung oksalat (sayur hijau, teh, cokelat, dsb), (d) garam dapur, (e) vitamin A dan C bermanfaat, tetapi vitamin D perlu dibatasi, (f) magnesium dan vitamin B6 dapat menurunkan oksalat urin
- Melakukan kontrol laboratorium darah dan urin secara rutin untuk memonitor asam urat, kolesterol, kalsium dan oksalat.
- Jika menderita diare harus segera diatasi agar jangan sampai dehidrasi atau keurangan cairan
Kreatinin Darah (Serum)
Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin.
Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot.
Prosedur
Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan 3-5 ml sampel darah vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi dan pisahkan serum/plasma-nya. Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang dapt meningkatkan kadar kreatinin serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging merah.
Kadar kreatinin diukur dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometer, fotometer atau analyzer kimiawi.
Nilai Rujukan
DEWASA : Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl. Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl. (Wanita sedikit lebih rendah karena massa otot yang lebih rendah daripada pria).
ANAK : Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl. Bayi : 0,7-1,4 mg/dl. Anak (2-6 tahun) : 0,3-0,6 mg/dl. Anak yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl. Kadar agak meningkat seiring dengan bertambahnya usia, akibat pertambahan massa otot.
LANSIA : Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan penurunan produksi kreatinin.
Masalah Klinis
Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan); namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk mengevaluasi fungsi glomerulus.
Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif), rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging sapi [kadar tinggi], unggas, dan ikan [efek minimal]).
Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah : Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid (gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat, mitramisin, metildopa, triamteren.
Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis.
Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin dan BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal (prarenal); dan jika keduanya meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal (peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna.
Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein, perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20) dengan kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium
Prosedur
Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan 3-5 ml sampel darah vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi dan pisahkan serum/plasma-nya. Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang dapt meningkatkan kadar kreatinin serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging merah.
Kadar kreatinin diukur dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometer, fotometer atau analyzer kimiawi.
Nilai Rujukan
DEWASA : Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl. Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl. (Wanita sedikit lebih rendah karena massa otot yang lebih rendah daripada pria).
ANAK : Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl. Bayi : 0,7-1,4 mg/dl. Anak (2-6 tahun) : 0,3-0,6 mg/dl. Anak yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl. Kadar agak meningkat seiring dengan bertambahnya usia, akibat pertambahan massa otot.
LANSIA : Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan penurunan produksi kreatinin.
Masalah Klinis
Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan); namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk mengevaluasi fungsi glomerulus.
Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif), rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging sapi [kadar tinggi], unggas, dan ikan [efek minimal]).
Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah : Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid (gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat, mitramisin, metildopa, triamteren.
Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis.
Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin dan BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar kreatinin dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal (prarenal); dan jika keduanya meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal (peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun lebih cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna.
Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin normal dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein, perdarahan saluran cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20) dengan kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia prarenal dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, azotemia pascarenal.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium
- Obat tertentu (lihat pengaruh obat) yang dapat meningkatkan kadar kreatinin serum.
- Kehamilan
- Aktivitas fisik yang berlebihan
- Konsumsi daging merah dalam jumlah besar dapat mempengaruhi temuan laboratorium.
Langganan:
Postingan (Atom)