Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu ; Secara kualitatif terdiri atas ; reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida, dan reaksi Sakaguchi. Secara kuantitatif terdiri dari ; metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), dan metode spektrofotometri UV.
Analisa Kualitatif
1. Reaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan.
2. Reaksi Hopkins-Cole
Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut.
3. Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.
4. Reaksi Natriumnitroprusida
Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus –SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif.
5. Reaksi Sakaguchi
Pereaksi yang digunakan ialah naftol dan natriumhipobromit. Pada dasarnya reaksi ini memberikan hasil positif apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan warna merah.
6. Metode Biuret
Larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya senyawasenyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna merah violet atau biru violet.
Analisa Kuantitatif
Analisis protein dapat digolongkan menjadi dua metode, yaitu: Metode konvensional, yaitu metode Kjeldahl (terdiri dari destruksi, destilasi, titrasi), titrasi formol. Digunakan untuk protein tidak terlarut.
Metode modern, yaitu metode Lowry, metode spektrofotometri visible, metode spektrofotometri UV. Digunakan untuk protein terlarut.
1. Metode Kjeldahl
Metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.
Penetapan Kadar
Prosedur :
1. Timbang 1 g bahan yang telah dihaluskan, masukkan dalam labu Kjeldahl (kalau kandungan protein tinggi, misal kedelai gunakan bahan kurang dari 1 g).
2. Kemudian ditambahkan 7,5 g kalium sulfat dan 0,35 g raksa (II) oksida dan 15 ml asam sulfat pekat.
3. Panaskan semua bahan dalam labu Kjeldahl dalam lemari asam sampai berhenti berasap dan teruskan pemanasan sampai mendidih dan cairan sudah menjadi jernih. Tambahkan pemanasan kurang lebih 30 menit, matikan pemanasan dan biarkan sampai dingin.
4. Selanjutnya tambahkan 100 ml aquadest dalam labu Kjeldahl yang didinginkan dalam air es dan beberapa lempeng Zn, tambahkan 15 ml larutan kalium sulfat 4% (dalam air) dan akhirnya tambahkan perlahan-lahan larutan natrium hidroksida 50% sebanyak 50 ml yang telah didinginkan dalam lemari es.
5. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera pada alat destilasi. Panaskan labu Kjeldahl perlahan-lahan sampai dua lapis cairan tercampur, kemudian panaskan dengan cepat sampai mendidih.
6. Destilasi ditampung dalam Erlenmeyer yang telah diisi dengan larutan baku asam klorida 0,1N sebanyak 50 ml dan indicator merah metil 0,1% b/v (dalam etanol 95%) sebanyak 5 tetes, ujung pipa kaca destilator dipastikan masuk ke dalam larutan asam klorida 0,1N.
7. Proses destilasi selesai jika destilat yang ditampung lebih kurang 75 ml. Sisa larutan asam klorida 0,1N yang tidak bereaksi dengan destilat dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida 0,1N. Titik akhir titrasi tercapai jika terjadi perubahan warna larutan dari merah menjadi kuning. Lakukan titrasi blanko.
Kadar Protein
Kadar protein dihitung dengan persamaan berikut :
Keterangan :
Fk : faktor koreksi
Fk N : 16
2. Metode Titrasi Formol
Larutan protein dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan formalin akan membentuk dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH sehingga akhir titrasi dapat diakhiri dengan tepat. Indikator yang digunakan adalah p.p., akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.
3. Metode Lowry
Prosedur :
Pembuatan reagen Lowry A : Merupakan larutan asam fosfotungstat-asam fosfomolibdat dengan perbandingan (1 : 1)
Pembuatan reagen Lowry B :
Campurkan 2% natrium karbonat dalam 100 ml natrium hidroksida 0,1N. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml tembaga (II) sulfat 1% dan 1 ml kalium natrium tartrat 2%.
Penetapan Kadar
a. Pembuatan kurva baku
Siapkan larutan bovin serum albumin dengan konsentrasi 300 µg/ml (Li). Buat seri konsentrasi dalam tabung reaksi, misal dengan komposisi berikut :
Tambahkan ke dalam masing-masing tabung 8 ml reagen Lowry B dan biarkan selama 10 menit, kemudian tambahkan 1 ml reagen Lowry A. Kocok dan biarkan selama 20 menit. Baca absorbansinya pada panjang gelombang 600 nm tehadap blanko. (Sebagai blanko adalah tabung reaksi no.1 pada tabel di atas)
b. Penyiapan Sampel
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil volume tertentu dan lakukan penetapan selanjutnya seperti pada kurva baku mulai dari penambahan 8 ml reagen Lowry A sampai seterusnya.
4. Metode Spektrofotometri Visible (Biuret)
Prosedur :
Pembuatan reagen Biuret :
Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4. 5H2O) dan kalium natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O) dalam 50 ml aquades dalam labu takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30 ml natrium hidroksida 10% sambil dikocok-kocok, selanjutnya tambahkan aquades sampai garis tanda.
Pembuatan larutan induk bovin serum albumin (BSA):
Ditimbang 500 mg bovin serum albumin dilarutkan dalam aquades sampai 10,0 ml sehingga kadar larutan induk 5,0% (Li). Penetapan kadar (Metode Biuret) :
Pembuatan kurva baku :
Dalam kuvet dimasukkan larutan induk, reagen Biuret dan aquades misal dengan komposisi sebagai berikut:
Setelah tepat 10 menit serapan dibaca pada ë 550 nm terhadap blanko yang terdiri dari 800 µL reagen Biuret dan 200 µL aquades.
Cara mempersiapkan sampel :
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil sejumlah µL larutan tersebut secara kuantitatif kemudian tambahkan reagen Biuret dan jika perlu tambah dengan dapar asetat pH 5 untuk pengukuran kuantitatif.
Setelah 10 menit dari penambahan reagen Biuret, baca absorbansinya pada panjang gelombang 550 nm terhadap blanko yang berisi reagen Biuret dan dapar asetat pH 5. Perhatikan adanya faktor pengenceran dan absorban sampel sedapat mungkin harus masuk dalam kisaran absorban kurva baku.
5. Metode Spektrofotometri UV
Asam amino penyusun protein diantaranya adalah triptofan, tirosin dan fenilalanin yang mempunyai gugus aromatik. Triptofan mempunyai absorbsi maksimum pada 280 nm, sedang untuk tirosin mempunyai absorbsi maksimum pada 278 nm. Fenilalanin menyerap sinar kurang kuat dan pada panjang gelombang lebih pendek. Absorpsi sinar pada 280 nm dapat digunakan untuk estimasi konsentrasi protein dalam larutan. Supaya hasilnya lebih teliti perlu dikoreksi kemungkinan adanya asam nukleat dengan pengukuran absorpsi pada 260 nm. Pengukuran pada 260 nm untuk melihat kemungkinan kontaminasi oleh asam nukleat. Rasio absorpsi 280/260 menentukan faktor koreksi yang ada dalam suatu tabel.
Kadar protein mg/ml = A280 x faktor koreksi x pengenceran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Protein. (http://www.wikipedia.com) diakses tanggal 12 Oktober 2008.
Sudarmaji, S, dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta.
Page, D.S. 1997. Prinsip-prinsip Biokimia. Erlangga: Jakarta.
Santoso, H. 2008. Protein dan Enzim. (http://www.heruswn.teachnology. com) diakses tanggal 12 Oktober 2008.
Sloane, E. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Anonim. 2007. Manfaat Protein dalam Kehidupan Sehari-hari. (http://www.blogger.com) diakses tanggal 12 Oktober 2008
Sudjadi, A. dan Rohman. 2004. Analisis Obat dan Makanan cetakan I. Yogyakarta: Yayasan Farmasi Indonesia.
Apriyantono, A. dkk. 1989. Analisis Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Penerbit UI-Press.
Kamal, M. 1991. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan Ternak, Yogyakarta: UGM-Press
6 April 2010
Analisa Karbohidrat
Klasifikasi Karbohidrat
Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua (2) macam yaitu karbohidrat sederhana dengan karbohidrat komplek atau dapat pula menjadi tiga (3) macam, yaitu :
a. Monosakarida (karbohidrat tunggal)
Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima (5) atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam (6) atom karbon (fruktosa/levulosa, glukosa, dan galaktosa).
Struktu glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (–CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O).
D-Glukosa (Fischer) D-Glukosa (Haworth)
b. Oligosakarida (tersusun dari beberapa monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari banyak jenis, seperti disakarida, trisakarida, tetrasakarida, dll. Namun paling banyak dipelajari ialah kelompok disakarida yang terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis disakarida ini termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk gula reduksi (nonreducing).
c. Polisakarida (tersusun lebih dari 10 monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari tiga (3) jenis yaitu :
1. Homopolisakarida
Yaitu polisakarida yang tersusun atas satu jenis dari monosakarida yang diikat oleh ikatan glikosida, seperti galactan, mannan, fructosans, dan glucosans (cellulose, dextrin, glycogen, dan starch/pati)
2. Heteropolisakarida
3. Polisakarida mengandung N (chitin)
§ Pengujian Karbohidrat
a. Uji Kualitatif
Pengujian ini dapat dilakukan dengan dua (2) macam cara, yaitu; pertama menggunakan reaksi pembentukan warna dan yang kedua menggunakan prinsip kromatografi (TLC/Thin Layer Cromatograpgy, GC/Gas Cromatography, HPLC/High Performance Liquid Cromatography). Dikarenakan efisiensi pengujian, pada umumnya untuk pengujian secara kualitatif hanya digunakan prinsip yang pertama yaitu adanya pembentukan warna sebagai dasar penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan. Sedikitnya ada tujuh (7) macam reaksi pembentukan warna, yaitu :
1. Reaksi Molisch
Uji molisch digunakan untuk menentukan karbohidrat secara umum
Dalam karbohidrat dikenal beberapa pengujian untuk menentukan kandungan yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah satu test yang dilakukan untuk menentukan ada tidaknya karbohidrat adalah tes Molisch. Ketika ada beberapa larutan yang tidak dikenal secara pasti bahwa larutan tersebut mengandung karbohidrat atau tidak, tes ini bisa dilakukan untuk menentukan adanya kandungan karbohidrat.
Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin yang berwarna ungu ketika direksikan dengan ?-naftol dan asam sulfat pekat. Diperkirakan, konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan ?-naftol untuk membentuk produk berwarna.
KH (pentose) + H2SO4 pekat à furfural à + a naftol à warna ungu
KH (heksosa) + H2SO4 pekat à HM-furfural à + a naftol à warna ungu
Kedua macam reaksi diatas berlaku umum, baik untuk aldosa (-CHO) maupun karbohidrat kelompok ketosa (C=O).
2. Reaksi Benedict
uji benedict digunakan untuk menentukan gula pereduksi dalam karbohidrat
Uji benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam suatu larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi merah bata. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan.
Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.
KH + camp CuSO4, Na-Sitrat, Na2CO3 à Cu2O endapan merah bata
3. Reaksi Barfoed
Uji barfoed digunakan untuk mengidentifikasi antara monoskarida, disakarida, dan polisakarida
KH + camp CuSO4 dan CH3COOH à Cu2O endapan merah bata
4. Reaksi Fehling
KH + camp CuSO4, K-Na-tatrat, NaOH à Cu2O endapan merah bata
Ketiga reaksi diatas memiliki prinsip yang hampir sama, yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa Cu2SO4 menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah dipanaskan pada suasana basa (Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan ditambahkan agen pengikat (chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Na-tatrat.
5. Reaksi Iodium
Uji atau tes ini digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif akan menghilang.
Dan sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali. Di dalam amilum sendiri terdiri dari dua macam amilum yaitu amilosa yang tidak larut dalam air dingin dan amilopektin yang larut dalam air dingin. Ketika amilum dilarutkan dalam air, amilosa akan membentuk micelles yaitu molekul-molekul yang bergerombol dan tidak kasat mata karena hanya pada tingkat molekuler.
Micelles ini dapat mengikat I2 yang terkandung dalam reagen iodium dan memberikan warna biru khas pada larutan yang diuji. Pada saat pemanasan, molekul-molekul akan saling menjauh sehingga micellespun tidak lagi terbentuk sehingga tidak bisa lagi mengikat I2. Akibatnya warna biru khas yang ditimbulkan menjadi menghilang.
Micelles akan terbentuk kembali pada saat didinginkan dan warna biru khaspun kembali muncul. Warna biru khas yang ditimbulkan sebagai hasil dari reaksi positif, juga akan hilang jika larutan yang telah positif dalam pengujian iod ditambah dengan NaOH. Ion Na+ yang bersifat alkalis akan mengikat iodium sehingga warna biru khas akan memudar dan hilang.
KH (poilisakarida) + Iod (I2) à warna spesifik (biru kehitaman)
6. Reaksi Seliwanoff
Uji selliwanof digunakan untuk menentukan karbohidrat jenis ketosa.
Beberapa karbohidrat memiliki gugus keton, adanya gugus keton tersebut dapat dibuktikan melalui uji seliwanoff. Jika karbohidrat yang mengandung gugus keton direaksikan dengan seliwanoff akan menunjukkan warna merah sebagai reaksi positifnya.
Adanya warna merah merupakan hasil kondensasi dari resorsinol yang sebelumnya didahului dengan pembentukan hidroksi metil furfural. Proses pembentukan hidroksi metil furfural berasal dari konversi dari fruktosa oleh asam klorik panas yang kemudian menghasilkan asam livulenik dan hidroksi metil furfural.
KH (ketosa) + H2SO4 à furfural à + resorsinol à warna merah.
KH (aldosa) + H2SO4 à furfural à + resorsinol à negatif
7. Reaksi Osazon
Uji osazon digunakan untuk mengamati perbedaan yang spesifik bagi tiap karbohidrat melalui penampang endapan yang dihasilkannya
Reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa maupun ketosa, yaitu dengan menambahkan larutan fenilhidrazin, lalu dipanaskan hingga terbentuk kristal berwarna kuning yang dinamakan hidrazon (osazon).
Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua (2) macam yaitu karbohidrat sederhana dengan karbohidrat komplek atau dapat pula menjadi tiga (3) macam, yaitu :
a. Monosakarida (karbohidrat tunggal)
Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima (5) atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam (6) atom karbon (fruktosa/levulosa, glukosa, dan galaktosa).
Struktu glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (–CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O).
D-Glukosa (Fischer) D-Glukosa (Haworth)
b. Oligosakarida (tersusun dari beberapa monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari banyak jenis, seperti disakarida, trisakarida, tetrasakarida, dll. Namun paling banyak dipelajari ialah kelompok disakarida yang terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis disakarida ini termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk gula reduksi (nonreducing).
c. Polisakarida (tersusun lebih dari 10 monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari tiga (3) jenis yaitu :
1. Homopolisakarida
Yaitu polisakarida yang tersusun atas satu jenis dari monosakarida yang diikat oleh ikatan glikosida, seperti galactan, mannan, fructosans, dan glucosans (cellulose, dextrin, glycogen, dan starch/pati)
2. Heteropolisakarida
3. Polisakarida mengandung N (chitin)
§ Pengujian Karbohidrat
a. Uji Kualitatif
Pengujian ini dapat dilakukan dengan dua (2) macam cara, yaitu; pertama menggunakan reaksi pembentukan warna dan yang kedua menggunakan prinsip kromatografi (TLC/Thin Layer Cromatograpgy, GC/Gas Cromatography, HPLC/High Performance Liquid Cromatography). Dikarenakan efisiensi pengujian, pada umumnya untuk pengujian secara kualitatif hanya digunakan prinsip yang pertama yaitu adanya pembentukan warna sebagai dasar penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan. Sedikitnya ada tujuh (7) macam reaksi pembentukan warna, yaitu :
1. Reaksi Molisch
Uji molisch digunakan untuk menentukan karbohidrat secara umum
Dalam karbohidrat dikenal beberapa pengujian untuk menentukan kandungan yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah satu test yang dilakukan untuk menentukan ada tidaknya karbohidrat adalah tes Molisch. Ketika ada beberapa larutan yang tidak dikenal secara pasti bahwa larutan tersebut mengandung karbohidrat atau tidak, tes ini bisa dilakukan untuk menentukan adanya kandungan karbohidrat.
Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin yang berwarna ungu ketika direksikan dengan ?-naftol dan asam sulfat pekat. Diperkirakan, konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan ?-naftol untuk membentuk produk berwarna.
KH (pentose) + H2SO4 pekat à furfural à + a naftol à warna ungu
KH (heksosa) + H2SO4 pekat à HM-furfural à + a naftol à warna ungu
Kedua macam reaksi diatas berlaku umum, baik untuk aldosa (-CHO) maupun karbohidrat kelompok ketosa (C=O).
2. Reaksi Benedict
uji benedict digunakan untuk menentukan gula pereduksi dalam karbohidrat
Uji benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam suatu larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi merah bata. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan.
Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.
KH + camp CuSO4, Na-Sitrat, Na2CO3 à Cu2O endapan merah bata
3. Reaksi Barfoed
Uji barfoed digunakan untuk mengidentifikasi antara monoskarida, disakarida, dan polisakarida
KH + camp CuSO4 dan CH3COOH à Cu2O endapan merah bata
4. Reaksi Fehling
KH + camp CuSO4, K-Na-tatrat, NaOH à Cu2O endapan merah bata
Ketiga reaksi diatas memiliki prinsip yang hampir sama, yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa Cu2SO4 menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah dipanaskan pada suasana basa (Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan ditambahkan agen pengikat (chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Na-tatrat.
5. Reaksi Iodium
Uji atau tes ini digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif akan menghilang.
Dan sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali. Di dalam amilum sendiri terdiri dari dua macam amilum yaitu amilosa yang tidak larut dalam air dingin dan amilopektin yang larut dalam air dingin. Ketika amilum dilarutkan dalam air, amilosa akan membentuk micelles yaitu molekul-molekul yang bergerombol dan tidak kasat mata karena hanya pada tingkat molekuler.
Micelles ini dapat mengikat I2 yang terkandung dalam reagen iodium dan memberikan warna biru khas pada larutan yang diuji. Pada saat pemanasan, molekul-molekul akan saling menjauh sehingga micellespun tidak lagi terbentuk sehingga tidak bisa lagi mengikat I2. Akibatnya warna biru khas yang ditimbulkan menjadi menghilang.
Micelles akan terbentuk kembali pada saat didinginkan dan warna biru khaspun kembali muncul. Warna biru khas yang ditimbulkan sebagai hasil dari reaksi positif, juga akan hilang jika larutan yang telah positif dalam pengujian iod ditambah dengan NaOH. Ion Na+ yang bersifat alkalis akan mengikat iodium sehingga warna biru khas akan memudar dan hilang.
KH (poilisakarida) + Iod (I2) à warna spesifik (biru kehitaman)
6. Reaksi Seliwanoff
Uji selliwanof digunakan untuk menentukan karbohidrat jenis ketosa.
Beberapa karbohidrat memiliki gugus keton, adanya gugus keton tersebut dapat dibuktikan melalui uji seliwanoff. Jika karbohidrat yang mengandung gugus keton direaksikan dengan seliwanoff akan menunjukkan warna merah sebagai reaksi positifnya.
Adanya warna merah merupakan hasil kondensasi dari resorsinol yang sebelumnya didahului dengan pembentukan hidroksi metil furfural. Proses pembentukan hidroksi metil furfural berasal dari konversi dari fruktosa oleh asam klorik panas yang kemudian menghasilkan asam livulenik dan hidroksi metil furfural.
KH (ketosa) + H2SO4 à furfural à + resorsinol à warna merah.
KH (aldosa) + H2SO4 à furfural à + resorsinol à negatif
7. Reaksi Osazon
Uji osazon digunakan untuk mengamati perbedaan yang spesifik bagi tiap karbohidrat melalui penampang endapan yang dihasilkannya
Reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa maupun ketosa, yaitu dengan menambahkan larutan fenilhidrazin, lalu dipanaskan hingga terbentuk kristal berwarna kuning yang dinamakan hidrazon (osazon).
16 Maret 2010
FISIOLOGI SYSTEM PERNAFASAN
1. Pengertian
· pernafasan adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
· Penghisapan udara disebut inspirasi ,sedangkan menghembuskan udara disebut ekpirasi
2. Fungsi
· mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh ( sel – selnya untuk mengadakan pembakaran
· mengeluarkan karbondioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran , kemudian dibawa oleh darah ke paru – paru untuk di buang
· menghangatkan dan melembabkan udara.
· Membuang panas dan uap air
· Menghasilkan suara ,menangis ,tertawa dan mencium
· Mempertahankan tubuh
· Membuang CO2 ,modifikasi ,aktifasi,non aktifasi zat toxsik
· Keseimbangan asam basa
· Meningkatkan darah balik
3. Alat – Alat Pernafasan
· hidung / naso/nasal
o hidung merupakan saluran udara pertama ,yang mempunyai dua lubang ( kavum nasi ) ,yang dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ).
o Didalamnya terdapat bulu – bulu yang berfungsi untuk menyaring udara seperti debu dan kotoran yang masuk melalui udara
o Bagian – bagian dari hidung
a. Bagian luar dinding dari kulit
b. Bagian tengah dari otot dan tulang rawan
c. Lapisan dalam yang terdiri dari selaput lendir yang berlipat yang disebut dengan karang hidung
o Tuba auditiva eustaki yang menghubungkan hidung dengan telinga tengah
o Tuba lakrimalis yang menghubungkan hidung dengan saluran air mata
o Sinus para nasal adalah ruang didalam tulang tengkorak yang berhubungan melalui lubang kedalam kavum nasal
o Fungsi hidung
a. Bekerja sebagai saluran udara pernafasan
b. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu hidung
c. Menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
d. Membunuh kuman – kuman yang masuk bersama udara,pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir
· Tekak /faring
o Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan
o Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat dan folikel getah bening yang disebut dengan adenoid
o Disebelahnya terdapat tonsil kiri dan kanan
o Dibelakangnya terdapat epiglotis ( empang tenggorokan )yang berfungsi menutup laring saat kita makan
o Rongga tekak dibagi atas tiga bagian yaitu:
a. Nasofaring ( bagian atas )
b. Orofaring ( tengah )
c. Larigofaring ( bawah )
· Pangkal tenggorokan / laring
o Merupakan sluran udara yang bertindak sebagai tempat pembentukan suara
o Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorokokan yang disebut epiglotis yang berfungsi waktu kita menelan makanan .
o Laring dilapisi oleh selaput lendir ,kecuali pita suara dan epiglotis yang dilapisi oleh epithelium berlapis
o Laring terdiri dari lima tulang rawan
a. Kartilago tiroid ( 1 buah ) depan jakun
b. Katilago ariteanoid ( 2 buah ) yang berbentuk beker
c. Kartilago krikoid ( 1 bauh ) berbentuk cincin
d. Kartilago epiglotis ( 1 buah )
· Pita suara /plica vokalis
o Pita suara berjumlah dua buah :
a. Bagian atas adalah pita suara palsu yang tidak mengeluarkan suara yang disebut dengan ventikularis
b. Bagian bawah adalah pita suara yang sejati yang membentuk suara yang disebut vokalis
o Selama respirasi tenag ,pita suara ditahan agak berjauhan sehingga udara dapat keluar masuk
o Selama respirasi kuat pita suara terpisah lebar
o Proses pembentukan suara
a. Terbentuknya suara merupakan hasil kerja sama antara rongga mulut , rongga hidung , laring ,lidah dan bibir
b. Suara dihasilkan oleh fibrasi pita suara selam ekspirasi. Suara yang dihasilkan dimodifikasi oleh gerakan falatum mole,pipi,lidah dan bibir dan resonansi tertentu oleh sinus udara kranialis
c. Pita suara palsu tidak terdapat tot karena itu tidak dapat bergetar hanya antara kedua pita suara tadidimasuki oleh aliran udara
· Trakea
o Merupan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin tulang rawan yang berbentuk C
o Panjang trakea lebih kurang 10 cm dan lebar 2,5 cm
o Kontruksi trakea sedemikian rupa sehingga tetap terbuka pada setiap semua posisi kepala dan leher
· Bronkus
o Berjalan kebawah dan kesamping kearah tampuk paru – paru
o Bronkus kiri lebih panjang dari pada bronkus kanan yang terdiri dari 9-12 cincin , yang mempunyai 2 cabang
o Bronkus bercabang – cabang.cabang yang paling kecil disebut bronkiolus pada bronkiolus tidak terdapat cincin lagi dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung hawa atau alveoli
· Paru – paru
o Merupakan alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari alveoli
o Jika dibentangkan luas permukaannya mencapai 90 meter kuadrat pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara dimana oksigen masuk kedalam darah dan karbondioksida keluar dari darah
o Banyak gelembung paru ini kurang lebih 700 juta buah ( kiri dan kanan )
ü Bagian dari Lobus superior : 5 segmen
ü Lobos medial : 2 segmen
ü Lobus inferior : 3 segmen
o paru – paru :
a. Paru – paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan 10 segmen
ü Lobus superior : 5 segmen
ü Lobos medial : 2 segmen
ü Lobus inferior : 3 segmen
b. Paru – paru kiri terdiri dari 2 lobus dan 10 segmen
ü Lobus superior : 5 segmen
ü Lobus inferior : 5 segmen
c. Didalam lobus ,bronkiolus ini bercabang banyak sekali,yang disebut dengan duktus alveoli
d. Tiap duktus alveoli berakir pada alveoli yang diameternya antara 0,2 -0,3 mm
o letak paru – paru
a. pada rongga dada datarannya menghadap ketengah rongga dada atau kavum mediastinum
b. pada mediatinum depan terdapat jantung
c. paru – paru di bungkus oleh selaput tipis yang disebut dengan pleura ,pleura dibagi atas dua lapis yaitu : plura viseralis yang letaknya erat pada permukaan paru dan pleura parientalis yang melapisi permukaan dalam dinding dada
d. pada keadaan normal kavum pleura ini vakum atau hampa udara sebagai paru dapat berkembang kempis , namun terdapat sedikit cairan untuk pelumas pada permukaan waktu bergerak atau bernafas
o kapasitas paru – paru
a. merupakan kesanggupan paru – paru dalam menampung udara didalamnya
b. dalam keadaan normal kedua paru – paru dapat menampung udara lebih kurang 5 liter.
c. Waktu ekspirasi didalam paru – paru masih tertinggal 3 liter udara,waktu bernafas udara yang masuk 2,5 liter
d. Batuk : menghembuskan nafas dengan tiba – tiba akibat adanya ransangan dari selaput lendir di jalan pernafasan
e. Bersin : pengeluaran nafas yang tiba – tiba akibat dari ransangan selaput lendir hidung
o Daya muat paru – paru
a. Besarnya daya muat paru – paru kurang dari 500 ml sampai 5000ml
b. Udara yang diproses dalam paru – paru ( inspirasi dan ekspirasi ) hanya 500 ml yang disebut udara pasang surut yaitu udara yang dihirup dan di hembuskan adalah pernafasan biasa
o Volume paru
a. Tidak semua udara inspirasi mencapai paru dan tidak semua udara di dalam alveoli di keluarkan saat ekspirasi
b. Volume tidal : sekitar 400 ml adalah volume udara inspirasi dan ekspirasi saat bernafas tenang
c. Volume residual : sekitar 1500 ml adalah jumlah udara yang tidak dapat dikeluarkan saat ekspirasi kuat dan tetap berada dalam alveoli
d. Kapasitas vital : sekitar 4500 ml adalah jumlah yang dapat dikeluarkan oleh paru /usaha volunter setelah inspirasi dalam
4. Proses Terjadinya Pernafasan
· bernafas berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara bergantian , teratur , berirama dan terus menerus
· bernafas merupakn gerak reflek yang terjadi pada otot pernafasan
· reflek bernafas ini diatur oleh pusat pernafasan yang terletal di medulla oblongata
· seseorang dapat menahan , memperlambat atau mempercepatkan nafasnya ini berari bahwa reflek bernafas ini juga dibawah pengaruh kortek serebri
· pernafasan adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
· Penghisapan udara disebut inspirasi ,sedangkan menghembuskan udara disebut ekpirasi
2. Fungsi
· mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh ( sel – selnya untuk mengadakan pembakaran
· mengeluarkan karbondioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran , kemudian dibawa oleh darah ke paru – paru untuk di buang
· menghangatkan dan melembabkan udara.
· Membuang panas dan uap air
· Menghasilkan suara ,menangis ,tertawa dan mencium
· Mempertahankan tubuh
· Membuang CO2 ,modifikasi ,aktifasi,non aktifasi zat toxsik
· Keseimbangan asam basa
· Meningkatkan darah balik
3. Alat – Alat Pernafasan
· hidung / naso/nasal
o hidung merupakan saluran udara pertama ,yang mempunyai dua lubang ( kavum nasi ) ,yang dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ).
o Didalamnya terdapat bulu – bulu yang berfungsi untuk menyaring udara seperti debu dan kotoran yang masuk melalui udara
o Bagian – bagian dari hidung
a. Bagian luar dinding dari kulit
b. Bagian tengah dari otot dan tulang rawan
c. Lapisan dalam yang terdiri dari selaput lendir yang berlipat yang disebut dengan karang hidung
o Tuba auditiva eustaki yang menghubungkan hidung dengan telinga tengah
o Tuba lakrimalis yang menghubungkan hidung dengan saluran air mata
o Sinus para nasal adalah ruang didalam tulang tengkorak yang berhubungan melalui lubang kedalam kavum nasal
o Fungsi hidung
a. Bekerja sebagai saluran udara pernafasan
b. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu hidung
c. Menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
d. Membunuh kuman – kuman yang masuk bersama udara,pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir
· Tekak /faring
o Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan
o Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat dan folikel getah bening yang disebut dengan adenoid
o Disebelahnya terdapat tonsil kiri dan kanan
o Dibelakangnya terdapat epiglotis ( empang tenggorokan )yang berfungsi menutup laring saat kita makan
o Rongga tekak dibagi atas tiga bagian yaitu:
a. Nasofaring ( bagian atas )
b. Orofaring ( tengah )
c. Larigofaring ( bawah )
· Pangkal tenggorokan / laring
o Merupakan sluran udara yang bertindak sebagai tempat pembentukan suara
o Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorokokan yang disebut epiglotis yang berfungsi waktu kita menelan makanan .
o Laring dilapisi oleh selaput lendir ,kecuali pita suara dan epiglotis yang dilapisi oleh epithelium berlapis
o Laring terdiri dari lima tulang rawan
a. Kartilago tiroid ( 1 buah ) depan jakun
b. Katilago ariteanoid ( 2 buah ) yang berbentuk beker
c. Kartilago krikoid ( 1 bauh ) berbentuk cincin
d. Kartilago epiglotis ( 1 buah )
· Pita suara /plica vokalis
o Pita suara berjumlah dua buah :
a. Bagian atas adalah pita suara palsu yang tidak mengeluarkan suara yang disebut dengan ventikularis
b. Bagian bawah adalah pita suara yang sejati yang membentuk suara yang disebut vokalis
o Selama respirasi tenag ,pita suara ditahan agak berjauhan sehingga udara dapat keluar masuk
o Selama respirasi kuat pita suara terpisah lebar
o Proses pembentukan suara
a. Terbentuknya suara merupakan hasil kerja sama antara rongga mulut , rongga hidung , laring ,lidah dan bibir
b. Suara dihasilkan oleh fibrasi pita suara selam ekspirasi. Suara yang dihasilkan dimodifikasi oleh gerakan falatum mole,pipi,lidah dan bibir dan resonansi tertentu oleh sinus udara kranialis
c. Pita suara palsu tidak terdapat tot karena itu tidak dapat bergetar hanya antara kedua pita suara tadidimasuki oleh aliran udara
· Trakea
o Merupan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin tulang rawan yang berbentuk C
o Panjang trakea lebih kurang 10 cm dan lebar 2,5 cm
o Kontruksi trakea sedemikian rupa sehingga tetap terbuka pada setiap semua posisi kepala dan leher
· Bronkus
o Berjalan kebawah dan kesamping kearah tampuk paru – paru
o Bronkus kiri lebih panjang dari pada bronkus kanan yang terdiri dari 9-12 cincin , yang mempunyai 2 cabang
o Bronkus bercabang – cabang.cabang yang paling kecil disebut bronkiolus pada bronkiolus tidak terdapat cincin lagi dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung hawa atau alveoli
· Paru – paru
o Merupakan alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari alveoli
o Jika dibentangkan luas permukaannya mencapai 90 meter kuadrat pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara dimana oksigen masuk kedalam darah dan karbondioksida keluar dari darah
o Banyak gelembung paru ini kurang lebih 700 juta buah ( kiri dan kanan )
ü Bagian dari Lobus superior : 5 segmen
ü Lobos medial : 2 segmen
ü Lobus inferior : 3 segmen
o paru – paru :
a. Paru – paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan 10 segmen
ü Lobus superior : 5 segmen
ü Lobos medial : 2 segmen
ü Lobus inferior : 3 segmen
b. Paru – paru kiri terdiri dari 2 lobus dan 10 segmen
ü Lobus superior : 5 segmen
ü Lobus inferior : 5 segmen
c. Didalam lobus ,bronkiolus ini bercabang banyak sekali,yang disebut dengan duktus alveoli
d. Tiap duktus alveoli berakir pada alveoli yang diameternya antara 0,2 -0,3 mm
o letak paru – paru
a. pada rongga dada datarannya menghadap ketengah rongga dada atau kavum mediastinum
b. pada mediatinum depan terdapat jantung
c. paru – paru di bungkus oleh selaput tipis yang disebut dengan pleura ,pleura dibagi atas dua lapis yaitu : plura viseralis yang letaknya erat pada permukaan paru dan pleura parientalis yang melapisi permukaan dalam dinding dada
d. pada keadaan normal kavum pleura ini vakum atau hampa udara sebagai paru dapat berkembang kempis , namun terdapat sedikit cairan untuk pelumas pada permukaan waktu bergerak atau bernafas
o kapasitas paru – paru
a. merupakan kesanggupan paru – paru dalam menampung udara didalamnya
b. dalam keadaan normal kedua paru – paru dapat menampung udara lebih kurang 5 liter.
c. Waktu ekspirasi didalam paru – paru masih tertinggal 3 liter udara,waktu bernafas udara yang masuk 2,5 liter
d. Batuk : menghembuskan nafas dengan tiba – tiba akibat adanya ransangan dari selaput lendir di jalan pernafasan
e. Bersin : pengeluaran nafas yang tiba – tiba akibat dari ransangan selaput lendir hidung
o Daya muat paru – paru
a. Besarnya daya muat paru – paru kurang dari 500 ml sampai 5000ml
b. Udara yang diproses dalam paru – paru ( inspirasi dan ekspirasi ) hanya 500 ml yang disebut udara pasang surut yaitu udara yang dihirup dan di hembuskan adalah pernafasan biasa
o Volume paru
a. Tidak semua udara inspirasi mencapai paru dan tidak semua udara di dalam alveoli di keluarkan saat ekspirasi
b. Volume tidal : sekitar 400 ml adalah volume udara inspirasi dan ekspirasi saat bernafas tenang
c. Volume residual : sekitar 1500 ml adalah jumlah udara yang tidak dapat dikeluarkan saat ekspirasi kuat dan tetap berada dalam alveoli
d. Kapasitas vital : sekitar 4500 ml adalah jumlah yang dapat dikeluarkan oleh paru /usaha volunter setelah inspirasi dalam
4. Proses Terjadinya Pernafasan
· bernafas berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara bergantian , teratur , berirama dan terus menerus
· bernafas merupakn gerak reflek yang terjadi pada otot pernafasan
· reflek bernafas ini diatur oleh pusat pernafasan yang terletal di medulla oblongata
· seseorang dapat menahan , memperlambat atau mempercepatkan nafasnya ini berari bahwa reflek bernafas ini juga dibawah pengaruh kortek serebri
FISIOLOGI NEURON
NEURON
* Neuron adalah unit dasar system saraf.terdapat berjuta-juta neuron dalam system saraf.setiap neuron terdiri dari sel saraf dan saratnya.sel saraf bervariasi bentuk dan ukuran berdasarkan fungsi yang berbeda-beda.
* Dendrit adalah serat pendek seperti sikat yang melekat pada luar sel,tempat impuls memasuki sel,akson adalah serat yang dilalui impuls meninggalkan sel
* Transmisi saraf hanya terjadi satu arah dalam sel melalui dendritnya dan keluar melalui akson.
* Satu neuron menerima sinyal dari ratusan sampai ribuan neuron lain dan mengirin sinyal tersebut ke dalam ratusan atau ribuan sel lain.sistem sinyal bersifat kimia dan listrik.
* Impuls saraf adalah perubahan kimia elektrik yang komplek yang berjalan sepanjang serat saraf.
* Sinaps adalah titik komunikasi antara satu neuron dengan neuron lain.pada titik ini transmisi impuls terjadi secara kimia.saat impuls tiba di sinap,transmiterkimia di bebaskan dan meransang sel berikutnya
* Terdapat 30 neuro transmiter,diantaranya : asetilkolin,norepineorin,dan dopamine.gangguan neuro transmitter di duga menyebabkan penyakitmental dan fisik pada otak
* Penyakit diemilinisasi adalah penyakit akibat degenerasi selubung myelin dan di serap.yang tersering adalah sclerosis multiple.
BAGIAN-BAGIAN SISTEM SARAF
1. system saraf pusat :serebrum dan medulla spinalis
2. system saraf ferifer :nervus kranialis dan spinalis
3. system saraf otonom
* substansia gricea adalah jaringan saraf yang didominasi sel saraf
* substansia alba adalah jaringan saraf yang didominasi sel saraf
SEREBRUM
Bagian-bagian serebrum :
Ø Hemisfer serebrum kanan dan kiri
Ø Otak tengah
Ø Pons
Ø Serebellum
Ø Medulla oblongata
HEMISFER SEREBRI
Setiap hemisfer serebri terbagi menjadi dua lobus :
1. Lobus prontalis
2. lobos pariertalis
3. lobis occipitalis
4. lobus temporalis
* Thalamus adalah masa sel saraf besar yang berbentuk telur terletak dalam substansia alba
* Area bicara adalah bagian kortek yang berhubungan dengan semua aspek bicara (mendengar,bicara,membaca,menulis)terletak pada hemisfer kiri pada semua orang yang dominant tangan kanan dan sebagian dominant tangan kiri
* Afasia adalah defek pada bicara dimana terdapat ketidakmampuan bicara
OTAK TENGAH
* Adalah struktur kecil diantara hemisfer serebri dibagian atas dan pons bagian bawah.terutama terdiri atas serat saraf yang berjalan keatas dan kebawah
PONS
* Pons adalah masa tebal jaringan saraf yang bersambung dengan otok tengah diatas dan medulla oblongata di bawah
* Terdiri dari serat saraf yang berjalan dari keatas dan kebawah atau transversal ke cerebellum
MEDULA OBLONGATA
* Medula oblingata adalah bagian sempit jaringan saraf yang berhubungan dengan pons di atas dan medulla spinalis di bawah mengandung sel pusat pengontrol jantung dan pernafasan
* Batang otak adalah otak tengah ,pons dan medulla oblongata yang dianggap sebagai unit fungsional.sistem retikularis adalah system sel saraf dan serat pengubungnya didalam otak
* Terlibat dalam tidur dan kesadarn ,regulasi suhu,gerakan gastrointestinal ,respirasi ,sirkulasi dan metabolisme
SEREBELLUM
* Terdiri dari lobus centralis kecil dan lobus kanan dan kiri yang lebih besar.dihubungkan oleh sarat saraf yang disebut pedunculus pada otak tengah,pons dan medulla oblongata
* Fungsi utama serebellum adalah koordinasi aktifitas muskuler,control tonus otot ,dan mempertahankan postur dan keseimbangan
* Penyakit serebellum sering menyebabkan gangguan keseimbangan ,postur ,tonus otot ,dan gaya berjalan
MEDULLA SPINALIS
* Medulla spinalis bersambung dengan medulla oblongata di atas. Panjang sekitar 45 cm,menepati 2/3 atas canalis vertebralis,berakhir pada tingkat vertebra lumbalis I dan II
* Medulla spinalis terdiri atas serat saraf bagian luar dan masa sel saraf berbentuk H pada bagian tengah dan canalis centralis kecil berjalan melalui substansia gricea
* Serat saraf tersusun dalam 3 kelompok: kolumna anterior,lateralis dan fosterior
o Serat motorik berjalan kebawah pada kolumna laterlis dan anterior
o Serat sensorik berjalan keatas pada kolumna lateralis dan superior
o Serat pendek menghubungkan tingkat medulla yang berbeda-beda
* Sel saraf tersusun dalam 3 kelompok utama
o Cornu anterior sel motorik
o Cornu posterior sel sensorik
o Cornu lateralis sel simpatis
* Nervus spinalis melekat melalui radiks anterior dan fosterior pada seluruh panjang medulla spinalis.medula spinalis lebih pendek dari kanalis spinalis.
SINYAL LISTRIK POTENSIAL BERJENJANG DAN POTENSIAL AKSI
* Saraf dan otot adalah jaringan yang dapat tereksitasi
Semua sel tubuh memiliki potensial membran yang berkaitan dengan distribusi yang tidak merata serta perbedaan permeabilitas dari Na,K dan anion besar intra sel.dua jenis sel.sel saraf dan sel otot, telah mengembangkan kegunaan khusus untuk potensial merman ini. Secara spesipik sel ini mampu mengalami perubahan secera cepat.untuk sementara waktu pada potensial membrannya.fluktasi potensial ini berfungsi sebagai sinyal listrik.memiliki dua bentuk dasar yaitu:
1. potensial berjenjang yang berfungsi sebagai sinyal jarak dekat
2. potensial aksi yang menjadi sinysl jarak jauh
saraf dan otot dianggap sebagai jaringan yang dapat tereksitasi,karena keduanya mampu menghasilkan sinyal listrik apabila dirangsang.potensial yang tidak memperlihatkan perubahan potensial yang cepat disebut sebagai potensial membrane istrahat.
* Potensial berjanjang cepat menghilang dalam jarak dekat
Potensial berjenjang adalah perubahan lokal potensial membran yang terjadi dalam berbagai drajat atau tingkat kekuatan.besarnya potensial berjenjang berkait dengan potensial pencetus,yaitu semakin kuat kejadian pencetusnya,semakin besar potensial jenjang yang terjadi.kejadian pencetus dapat barupa:
1. Stimulus
2. intraksi suatu zat perantara kimiawi dengan reseptor permukaan pada membrane sel saraf atau otot
3. Perubahan spontan potensial akibat ketidakseimbangan siklus pengeluaran pemasukan
* Potensial aksi adalah pembalikan singkat potensial merman akibat perubahan cepat permeabilitas membrane
Karena aliran arus pasif yang menyertai potensial berjenjang cepat menghilangkan sewaktu arus tersebut bergerak menjauhi tempat pembentukan.harus terdapat mekanisme lain untuk menyampaikan sinyal listrik kejarak yang jauh.agar kekuatan sinyal tetap dipertahankan selama sinyal untuk menjauhi tempat pembentukannya.untuk memahami proses yang terjadi selama potensial aksi.harus mengenal istilah-istilah berikut:
1. .polarisasi. memiliki membran potensial;pemisahan muatan yang berlawanan
2. depolarisasi. Potensial membrane mengalami penurunandari potensial istrahat
3. hiperpolarisasi .potensial lebih besar darinpada potensial istrahat
* Pompa Na –K secara bertahap memilih gradien kosentrasi yang terganggu akibat potensial aksi
Proses pamompaan aktif memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan Na dan K kelokasi mereka semula dari pada waktu yang diperlukan oleh aliran pasif ion-ion tersebut pada saat potensial aksi.hanya sekitar 1 dari 100.000 ion K yang terdapat disel keluar sewaktu terjadinya sebuah potensial aksi , sementara sejumlah ion Na yang sebanding masuk dari CES.perpindahan lokasi Na dan K dalam kosentrasi yang sangat kecil ini selama potensial aksi berlansung hamper tidak menimbulkan perubahan kosentrasi kedua ion tersebut.
* Mielinisasi meningkatkan kecepatan hantaran potensial aksi dan menghemat energi dalam preses
Kecepatan suatu potensial aksi berjalan disepanjang akson bergantung pada dua factor:
1. apakah seratnya bermielan
2. garis tangan serat tidak bermielin
serat bermielin ,seperti disyaratkan oleh namanya,terbungkus myelin pada interval
tertur disepanjang akson,mielin utama terdiri dari lipid.sel-sel penbentuk myelin ini adalah oligodondrosit disunsun saraf pusat dan sel schwann disistem saraf ferifer.pada serat bermielin impuls meloncat dari satu nodul ke nodul berikutnya.melewati bagian-bagian bermielin pada akson.
* Neuron adalah unit dasar system saraf.terdapat berjuta-juta neuron dalam system saraf.setiap neuron terdiri dari sel saraf dan saratnya.sel saraf bervariasi bentuk dan ukuran berdasarkan fungsi yang berbeda-beda.
* Dendrit adalah serat pendek seperti sikat yang melekat pada luar sel,tempat impuls memasuki sel,akson adalah serat yang dilalui impuls meninggalkan sel
* Transmisi saraf hanya terjadi satu arah dalam sel melalui dendritnya dan keluar melalui akson.
* Satu neuron menerima sinyal dari ratusan sampai ribuan neuron lain dan mengirin sinyal tersebut ke dalam ratusan atau ribuan sel lain.sistem sinyal bersifat kimia dan listrik.
* Impuls saraf adalah perubahan kimia elektrik yang komplek yang berjalan sepanjang serat saraf.
* Sinaps adalah titik komunikasi antara satu neuron dengan neuron lain.pada titik ini transmisi impuls terjadi secara kimia.saat impuls tiba di sinap,transmiterkimia di bebaskan dan meransang sel berikutnya
* Terdapat 30 neuro transmiter,diantaranya : asetilkolin,norepineorin,dan dopamine.gangguan neuro transmitter di duga menyebabkan penyakitmental dan fisik pada otak
* Penyakit diemilinisasi adalah penyakit akibat degenerasi selubung myelin dan di serap.yang tersering adalah sclerosis multiple.
BAGIAN-BAGIAN SISTEM SARAF
1. system saraf pusat :serebrum dan medulla spinalis
2. system saraf ferifer :nervus kranialis dan spinalis
3. system saraf otonom
* substansia gricea adalah jaringan saraf yang didominasi sel saraf
* substansia alba adalah jaringan saraf yang didominasi sel saraf
SEREBRUM
Bagian-bagian serebrum :
Ø Hemisfer serebrum kanan dan kiri
Ø Otak tengah
Ø Pons
Ø Serebellum
Ø Medulla oblongata
HEMISFER SEREBRI
Setiap hemisfer serebri terbagi menjadi dua lobus :
1. Lobus prontalis
2. lobos pariertalis
3. lobis occipitalis
4. lobus temporalis
* Thalamus adalah masa sel saraf besar yang berbentuk telur terletak dalam substansia alba
* Area bicara adalah bagian kortek yang berhubungan dengan semua aspek bicara (mendengar,bicara,membaca,menulis)terletak pada hemisfer kiri pada semua orang yang dominant tangan kanan dan sebagian dominant tangan kiri
* Afasia adalah defek pada bicara dimana terdapat ketidakmampuan bicara
OTAK TENGAH
* Adalah struktur kecil diantara hemisfer serebri dibagian atas dan pons bagian bawah.terutama terdiri atas serat saraf yang berjalan keatas dan kebawah
PONS
* Pons adalah masa tebal jaringan saraf yang bersambung dengan otok tengah diatas dan medulla oblongata di bawah
* Terdiri dari serat saraf yang berjalan dari keatas dan kebawah atau transversal ke cerebellum
MEDULA OBLONGATA
* Medula oblingata adalah bagian sempit jaringan saraf yang berhubungan dengan pons di atas dan medulla spinalis di bawah mengandung sel pusat pengontrol jantung dan pernafasan
* Batang otak adalah otak tengah ,pons dan medulla oblongata yang dianggap sebagai unit fungsional.sistem retikularis adalah system sel saraf dan serat pengubungnya didalam otak
* Terlibat dalam tidur dan kesadarn ,regulasi suhu,gerakan gastrointestinal ,respirasi ,sirkulasi dan metabolisme
SEREBELLUM
* Terdiri dari lobus centralis kecil dan lobus kanan dan kiri yang lebih besar.dihubungkan oleh sarat saraf yang disebut pedunculus pada otak tengah,pons dan medulla oblongata
* Fungsi utama serebellum adalah koordinasi aktifitas muskuler,control tonus otot ,dan mempertahankan postur dan keseimbangan
* Penyakit serebellum sering menyebabkan gangguan keseimbangan ,postur ,tonus otot ,dan gaya berjalan
MEDULLA SPINALIS
* Medulla spinalis bersambung dengan medulla oblongata di atas. Panjang sekitar 45 cm,menepati 2/3 atas canalis vertebralis,berakhir pada tingkat vertebra lumbalis I dan II
* Medulla spinalis terdiri atas serat saraf bagian luar dan masa sel saraf berbentuk H pada bagian tengah dan canalis centralis kecil berjalan melalui substansia gricea
* Serat saraf tersusun dalam 3 kelompok: kolumna anterior,lateralis dan fosterior
o Serat motorik berjalan kebawah pada kolumna laterlis dan anterior
o Serat sensorik berjalan keatas pada kolumna lateralis dan superior
o Serat pendek menghubungkan tingkat medulla yang berbeda-beda
* Sel saraf tersusun dalam 3 kelompok utama
o Cornu anterior sel motorik
o Cornu posterior sel sensorik
o Cornu lateralis sel simpatis
* Nervus spinalis melekat melalui radiks anterior dan fosterior pada seluruh panjang medulla spinalis.medula spinalis lebih pendek dari kanalis spinalis.
SINYAL LISTRIK POTENSIAL BERJENJANG DAN POTENSIAL AKSI
* Saraf dan otot adalah jaringan yang dapat tereksitasi
Semua sel tubuh memiliki potensial membran yang berkaitan dengan distribusi yang tidak merata serta perbedaan permeabilitas dari Na,K dan anion besar intra sel.dua jenis sel.sel saraf dan sel otot, telah mengembangkan kegunaan khusus untuk potensial merman ini. Secara spesipik sel ini mampu mengalami perubahan secera cepat.untuk sementara waktu pada potensial membrannya.fluktasi potensial ini berfungsi sebagai sinyal listrik.memiliki dua bentuk dasar yaitu:
1. potensial berjenjang yang berfungsi sebagai sinyal jarak dekat
2. potensial aksi yang menjadi sinysl jarak jauh
saraf dan otot dianggap sebagai jaringan yang dapat tereksitasi,karena keduanya mampu menghasilkan sinyal listrik apabila dirangsang.potensial yang tidak memperlihatkan perubahan potensial yang cepat disebut sebagai potensial membrane istrahat.
* Potensial berjanjang cepat menghilang dalam jarak dekat
Potensial berjenjang adalah perubahan lokal potensial membran yang terjadi dalam berbagai drajat atau tingkat kekuatan.besarnya potensial berjenjang berkait dengan potensial pencetus,yaitu semakin kuat kejadian pencetusnya,semakin besar potensial jenjang yang terjadi.kejadian pencetus dapat barupa:
1. Stimulus
2. intraksi suatu zat perantara kimiawi dengan reseptor permukaan pada membrane sel saraf atau otot
3. Perubahan spontan potensial akibat ketidakseimbangan siklus pengeluaran pemasukan
* Potensial aksi adalah pembalikan singkat potensial merman akibat perubahan cepat permeabilitas membrane
Karena aliran arus pasif yang menyertai potensial berjenjang cepat menghilangkan sewaktu arus tersebut bergerak menjauhi tempat pembentukan.harus terdapat mekanisme lain untuk menyampaikan sinyal listrik kejarak yang jauh.agar kekuatan sinyal tetap dipertahankan selama sinyal untuk menjauhi tempat pembentukannya.untuk memahami proses yang terjadi selama potensial aksi.harus mengenal istilah-istilah berikut:
1. .polarisasi. memiliki membran potensial;pemisahan muatan yang berlawanan
2. depolarisasi. Potensial membrane mengalami penurunandari potensial istrahat
3. hiperpolarisasi .potensial lebih besar darinpada potensial istrahat
* Pompa Na –K secara bertahap memilih gradien kosentrasi yang terganggu akibat potensial aksi
Proses pamompaan aktif memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan Na dan K kelokasi mereka semula dari pada waktu yang diperlukan oleh aliran pasif ion-ion tersebut pada saat potensial aksi.hanya sekitar 1 dari 100.000 ion K yang terdapat disel keluar sewaktu terjadinya sebuah potensial aksi , sementara sejumlah ion Na yang sebanding masuk dari CES.perpindahan lokasi Na dan K dalam kosentrasi yang sangat kecil ini selama potensial aksi berlansung hamper tidak menimbulkan perubahan kosentrasi kedua ion tersebut.
* Mielinisasi meningkatkan kecepatan hantaran potensial aksi dan menghemat energi dalam preses
Kecepatan suatu potensial aksi berjalan disepanjang akson bergantung pada dua factor:
1. apakah seratnya bermielan
2. garis tangan serat tidak bermielin
serat bermielin ,seperti disyaratkan oleh namanya,terbungkus myelin pada interval
tertur disepanjang akson,mielin utama terdiri dari lipid.sel-sel penbentuk myelin ini adalah oligodondrosit disunsun saraf pusat dan sel schwann disistem saraf ferifer.pada serat bermielin impuls meloncat dari satu nodul ke nodul berikutnya.melewati bagian-bagian bermielin pada akson.
UMUR DAN DEKSTRUKSI ERITROSIT
Dalam keadaan normal masa hidup dari eritrosit yaitu waktu antara sel tersebut dilepas dari sumsum tulang ke dalam darah tepi sampai hilang dari darah, berkisar antara 100-120 hari.
Sel yang dihancurkan setiap hari akan diganti dengan sel baru yang dilepas dari sumsum tulang. Dengan demikian akan terjadi suatu populasi eritrosit yaang berumur antara 1 hari dan 120 hari. Jadi sekitar 1% eritrosit dalam tubuh dihancurkan dan diganti tiap hari, sehingga jumlah total eritrosit tetap. Sel eritrosit yang tua ditarik dari peredaran dengan jalan phagositosis oleh sel dari sistem retikuloendotelia di daerah aliran darah yang pelan, yaitu didinding sinusoid terutama di lien. Pada saat eritrosit dilepas dalam sumsum tulang masuk dalam sirkulasi darah dan disebut eritrosit yang matur, di sini proses penuaan sebenarnya sudah dimulai. Pada saat eritrosit kehilangan inti, mitokondria dan ribosom maka sel ini telah kehilangan kemampuan untuk mengadakan sintesa protein. Enzzim dari sel darah secara bertahap kehilangan aktifitasnya dalam proses metabolisme.
Oleh karena perubahan ini menyangkut proses glicolitic pathway, makaa ATP semakin berkurang. ATP merupakan sumber utama energi sel, akibatnya akan terjadi gangguan transport Na dan K. Berkurangnya jumlah ATP juga menyebabkan menurunnya deformitas sel.
Gangguan dari Phentose Phospat Pathway disini ditandai dengan menurunnya kadar enzim G-6-PD, maaka eritrosit tidak terlindung terhadap bahan oksidan. Dari perubahan biokimiawi tersebut maka sel darah menjadi peka terhadap penghancuran.
Mekanisme dekstruksi eritrosit sampai saat ini masih merupakan kemungkinan. Paling tidak ada 5 cara dekstruksi eritrosit sbb:
1.Fragmentasi
2.Osmotik lisis
3.erithrophagositosis
4.complement-induced cytolisis
5.denaturasi hemoglobin
Sel yang dihancurkan setiap hari akan diganti dengan sel baru yang dilepas dari sumsum tulang. Dengan demikian akan terjadi suatu populasi eritrosit yaang berumur antara 1 hari dan 120 hari. Jadi sekitar 1% eritrosit dalam tubuh dihancurkan dan diganti tiap hari, sehingga jumlah total eritrosit tetap. Sel eritrosit yang tua ditarik dari peredaran dengan jalan phagositosis oleh sel dari sistem retikuloendotelia di daerah aliran darah yang pelan, yaitu didinding sinusoid terutama di lien. Pada saat eritrosit dilepas dalam sumsum tulang masuk dalam sirkulasi darah dan disebut eritrosit yang matur, di sini proses penuaan sebenarnya sudah dimulai. Pada saat eritrosit kehilangan inti, mitokondria dan ribosom maka sel ini telah kehilangan kemampuan untuk mengadakan sintesa protein. Enzzim dari sel darah secara bertahap kehilangan aktifitasnya dalam proses metabolisme.
Oleh karena perubahan ini menyangkut proses glicolitic pathway, makaa ATP semakin berkurang. ATP merupakan sumber utama energi sel, akibatnya akan terjadi gangguan transport Na dan K. Berkurangnya jumlah ATP juga menyebabkan menurunnya deformitas sel.
Gangguan dari Phentose Phospat Pathway disini ditandai dengan menurunnya kadar enzim G-6-PD, maaka eritrosit tidak terlindung terhadap bahan oksidan. Dari perubahan biokimiawi tersebut maka sel darah menjadi peka terhadap penghancuran.
Mekanisme dekstruksi eritrosit sampai saat ini masih merupakan kemungkinan. Paling tidak ada 5 cara dekstruksi eritrosit sbb:
1.Fragmentasi
2.Osmotik lisis
3.erithrophagositosis
4.complement-induced cytolisis
5.denaturasi hemoglobin
Langganan:
Postingan (Atom)